Generasi Milenial, Hijrah Fest: Muslim tanpa Masjid?




Jurnalis.my.id - Pada saat reformasi pada 1998 dulu, ada satu arti yang demikian terkenal dari almarhum budayawanan, sejarawan, serta pemerhati sosial keagamaan, DR Kuntowijoyo. Ia mengenalkan arti untuk menerangkan satu kejadian dari lahirnya generasi baru Muslim Indonesia. Kuntowjoyo mengistilahkan dengan panggilan: 'Muslim tanpa ada masjid".

Buat beberapa orang memang kemungkinan ini cuma untuk hasil amatan yang dipandang seperti angin kemarin. Tetapi jika menyimak perkembangan sosial yang berlangsung di masyarkat Muslim Indonesia saat ini, karena itu pisau analisa itu benar-benar yahud, bernas, dan berarti. Ditambah lagi selanjutnya digunakan untuk menerangkan tempat anak muda Muslim ditengah-tengah arus perkembangan mondial atau yang sering disebutkan globalisasi.




Kuntowijoyo dengan simpel menerangkan apakah yang dimaksud dengan arti Muslim tanpa ada masjid itu. Ia dengan singkat ingin menjelaskan jika timbulnya barisan sosial muda ini cukup unik. Mereka memang seperti banyak orang Islam yang lain, Tetapi di saat yang serupa mereka berasa jika dianya bukan sisi dari umat tersebut.




Mereka bertambah pilih pada satuan-satuan yang lain bukan umat, seperti negara, wilayah, bangsa, partai, organisasi masyarakat, kelas, usaha dan lain-lain.

Tidak cuma itu, Kuntowijoyo menerangkan jika pengetahuan agama generasi ini mencukupi. Tetapi pengetahuan mereka tidak di bisa dari instansi pendidikan 'konvensional' seperti generasi awalnya seperti masjid, pesantren atau madrasah. Pengetahuan serta pandangan mereka datang dari beberapa sumber lain dari sumber anonim, seperti pelatihan, seminar, buku, majalah, kaset, CD, VCD, internet, radio serta tv.




Mengakibatkan, kata Kunto, fakta ini adalah satu fakta yang perlu dibayar mahal oleh Islam di Indonesia dari timbulnya kejadian kehidupan 'urban society' (manusia perkotaan) dari generasi yang lahir pada saat selanjutnya.

Nah, pada saat sekarang generasi berikut yang disebutkan dekat disebutkan angkatan muda modern yang di golongan Muslim saat ini disebutkan generasi Muslim milenial. Jadi hadirnya generasi ini sudah proses riwayat yang panjang yang disebutkan, contohnya oleh almarhum DR NUrchlosih Madjid untuk santrinasi Indonesia untuk resiko hasil pendidikan yang dikenyam oleh Muslim bersamaan hadirnya kemerdekaan.

Generasi ini generasi baru. Jadi jika Cak Nur menjelaskan di tahun 1990-an, orang muslim telah naik kelas dari tempat 'ujlah' (memisahkan diri) dari hiruk pikuk proses kenegaraan dan tidak mencicipi sekolah 'modern', karena itu selanjutnya menjadi pemilik negeri dengan demikian banyak mengenyam pendidikan tinggi sama dengan doktor, menjadi fonema baru yang menariik.

Jika generasi 70-80-an golongan anak muda Muslim (santri) cuma berpendidikan sama dengan S1 saja, pada peripde 80-90-an, saat itu banyak sekali yang bertitel S3 dari beberapa kampus luar dan dalam negeri.




Karena itu, jika memikirkan apakah yang dikaji Kuntowijoyo serta Nurcholish Madjid seputar dua puluh tahun yang lalu, pada periode saat ini jelas sangat beralih. Yang sangat mengagumkan lagi punya pengaruh ialah selanjutnya hadirnya tehnologi info lewat internet. Dunia jadi beralih betul-betul tanpa ada batas. Keberadaan negara semakin sekedar hanya jadi salah satunya sisi 'kampung dunia' yang sama-sama tersambung. Arti bagus yang lain, dunia betul-betul telah dilipat.

Akhirnya, jangan sampai bingung jika hari-hari ini ada perbuahan muka yang mengagumkan pada golongan muda Indonesia saat ini. Mereka betul-betul ada untuk 'manusia baru' yang sangat tidak sama dengan figur generasi pada dua dasa warsa yang lalu saat analisis itu dibikin.




Harus anak muda Muslim jadi sisi masyarakat dunia. Karena perkembangan ilmu dan pengetahuan serta tehnologi mereka dapat berjumpa serta melakukan komunikasi dengan cara langsung kapan dan dimana saja.




Contoh mudah ini lain dengan generasi 'bapaknya' yang masih tetap serba manual serta analog. Serta barisan generasi milenial Muslim ini ditakdirkan yang menyesaki situasi hidup saat dusun sudah menjadi perkotaan dan bertambah hidup makmur serta serba gampang dalam kehidupan serba digital.

Karena perkembangan lingkungan sosial itu, karena itu ekpresi hidupnya juga beralih. Mereka tidak mudah didoktrin serta hidup dengan sudut pandang sendiri. Mereka tidak dapat didekte ala 'dipecut serta dikasih kaca mata kuda'. Mereka langsung dapat memeriksa semua klaim dari generasi awalnya dengan satu kamus segalanya modern yang namanya 'Google' lewak koneksi internet yang gampang didapat.

Lewat media itu mereka betul-betul jadi individu yang bisa jadi manusia yang bertambah prima. Mereka seolah lengkapi daur hidup evolusi masa manusia selanjutnya. Ini sebab generasi milenial Muslim ini telah melonjak teramat jauh semenjak masa manusia jaman modern yang diawali pada revolusi industri saat ditemukan mesin bikin ala Gutenberg itu.




Lompatan raksasa itu yang sekarang harus harus digunakan untuk pisau analisis masa generasi yang diistilahkan untuk 'Muslim Tanpa ada Masjid itu'. Apakah yang ada dipikiran mereka tentang pemahaman serta peranan entitas masjid telah tidak sama serta benar-benar tidak sama dengan masjid yang ada pada pikiran generasi awalnya. Guru agama, ustaz, ulama, tidak lagi figur yang dengan ekpresi konvensional serta galak yang menyukai memukul gunakan tangkai lidi bambu saat bapaknya dulu belajar mengaji di suraunya 'wak haji'.

Semua sekarang banyak tercampakkan jauh serta sudah menjadi sekolah skema kelas modern yang suka menggunakan arti bahasa asing. Cara ajar baca Alqurannnya tidak lagi menggunakan mode classic ala Bahgdadi, tetapi mereka akbrad dengan mengaji baru ala Iqra serta semacamnya yang dulu dipelopori oleh ustaz asal Kota Gede Yogyakarta, As'ad Human. Kitab serta buku beralih jadi papan sabak modern, yaitu latop serta tab computer dengan beberapa jenis macamnya.




Demikian juga dengan mereka berinfak, zakat, infaq, sampai sadaqah. Mereka tidak lagi pergi beberapa ke rumah golongan tua yang memahami agama, tetapi mereka bentuk instansi serta yayasan filantropi. Langkah baju tidak dapat didikte dengan cuma mengidentikan menggunakan kain sarung, jubah, atau nahas pansi, tetapi bebas saja. Serta, bermacam lambang baju yang berada di jaman lalu mereka rajut kembali lagi serta ganti modenya dengan bahan serta potongan kain baru.

Justru mereka tidak sungkan menggunakan baju yang dulu dikenai oleh orang dengan figur dengan lambang spesifik serta sekarang selanjutnya membuatnya untuk hal atau panorama kesehariannya yang umum saja.




Karena itu jangan bingung serban contohnya, bukan lagi panorama 'angker' seperti berimajinasi pejoratif seperti sindrom mental yang diderita oleh generasi perintisnya. Mereka bawa serta model baju ini berbentuk baru serta sampai ke atas panggung musik rock yang dulu sering dicap urakan. Pengajian juga sekarang beralih seperti konser besar serta festival. Mereka berkompetisi dengan atraksi waktu non agama yang berkarcis mahal.




Mereka rupanya dapat jual pengajian dalam makna yang bertambah menawan dibandingkan generasi awalnya yang serba gratisan. Pengajian sekarang bertiket dan jadi tempat pergerakan sosial.

Contoh semuanya berlangsung pada kejadian 'Hijrah Fest' yang pada 3 hari di akhir minggu kemarin selesai diadakan. Tanpa ada disangka serta diduga ticket acara pengajjian yang dikemas dengan mode baru itu membuat histeria massa berkompetisi dengan konser musik yang ada di minggu yang serupa: Konser super group Rock Gun & Roses atau konser Mariah Carey.

Tempat gedung konprensi golongan elit yang berada di bilangan komplek Gelora Senayan itu mereka buat jadi tempat masjid dadakan. Gedung yang dulu dibuat untuk tempat beberapa jenis konprensi internasional, seperti Konprensi Negara Non Blok itu sekarang jadi tempat pengajian baru.




Di sini imajinasi beralih keseluruhan seperti cerita narasi pendek classic karya AA Navis: Ambruknya Surau Kami. Masa lalu akan imajinasi figur surau yang lama betul-betul musnah dari daya ingat mereka. Pandangan akan kesan-kesan kedaluwarsa serta berdebu atas figur ajaran agama bertukar dan ada dengan figur surau atau masjid baru yang tampil serba mengkilap serta ikuti gerak jaman.

Karena itu sebelum tutup tulisan ini jadi pas jika mencuplik figur utama di tempat Pindah Fest 2018 ini: Arie Untung. Ditambah lagi banyak info yang tersebar jika banyak rapat untuk penyelenggaraan acara ini diadakan di tempat tinggalnya yang berada di bilangan Jagakarsa, Jakarta. Tempat tinggalnya yang luas memang pas menjadi tempat rapat persiapan acara festival itu. Tulisan Ari Untung mengenai acara Pindah Festival juga sudah jadi trending di sosial media. Didalamnya semacam ini:




Ada jutaan doa
Ada ribuan saudara baru
Ada puluhan tatoo masa lalu telah terhapus
Ada 18 syahadat (diantaranya dari Jepang dan Georgia)
Ada puluhan komunitas bertambah menjadi ratusan copy darat
Ada kiriman sinyal penonton online dari Jepang, Rusia. A merika. Taiwan, Qatar, Inggris benua Eropa, Asia semua yang bersaudara dengan kita
Ada ratusan pengusaha Muslim merasakan nikmatnya berbisnis
Ada puluhan Aplikasi Muslim terluncur
Ada ada ada.. bingung mau tulis ada apa lagi
Yang ada sebenarnya cuma satu .
Ada ALLAH

Jangan puji penyelenggaranya
jangan puji komunitas dibelakangnya
Jangan puji adab kesopanan pengunjungnya
Mereka ini cuma cukup didoakan keistiqamahnnya
Pujilah hanya ALLAH
(karena panitia semalam gak berhenti hentinya menangis karena kalau Allah nggak ridha mungkin saja acara ini nggak lancar, semoga ini merupakan sinyal darinya)

Ridhai kami ya Rabbi. Luruskan niat kami hanya hanya kepadamu
masyaallah tabarakallah

hijrahfest.

Lihat Juga