Candu Kekuasan di Negara Demokrasi




Candu Kekuasan di Negara Demokrasi


Demokrasi saat ini benar-benar telah menjadi puisi indah yang memabukan. Tanpa sadar kita di tipu daya oleh penguasa penguasa yang memakai dalih topeng nilai nilai demokrasi. Inilah dilemma besar bagi bangsa Indonesia, dilema mayoritas. Sungguh , demokrasi telah menjelma candu dewa baru. Paham irrasional ini telah membutakan akal kita, menjauhkan kita dari misi hidup sebenarnya.

NarasiB yang di sajikan politik bagaikan alunan music yang mengasyikan, membawa terbang bersama imajinasi, serta tersimpan dalam memori, meski para penguasa saling caci maki, tapi rakyat tetap mencintai Demokrasi tak langsung mengerdilkan keotonomian warga dan menepis daya kritis anggota parpol. Para warga di motivasi agar berkelompok dalam parpol dan organisasi yang di lembagakan inilah yang menetapkan calon calon wakil. Baru sesudah itu warga “di persilahkan” memilih antara calon calon itu, yang akan di berikan kepercayaan formal sebagai wakil mereka,

yang berlabel “wakil rakyat”. Problematika politik sering kali terjadi di negara berkembang seperti perebutan kekuasaan yang saling mencekik bagai kompetisi yang amat fantastic dalam dunia elite politik. Kekuasaan seperti candu yang memanjakan insan yang terjun di dalamnya, sebuah sesnsasi di dunia politik akan menyihir serta merubah kepentingan bangsa menjadi kepetingan pribadi. Bahkan Bismarck menujar bahwa : “hanya satu hal yang tidak berubah dalam politik negara negara yaitu geografi”.




Seperti yang kita ketahui setiap warga negara memiliki hak yang sama dalam negara demBokrasi, tidak melulu kekuasaan berdiri dalam satu genggaman namun kekuasaan berhak di miliki oleh setiap warga negara. Seperti arti Demokrasi yang berasal dari kata yang artinya “rakyat” dan yang artinya sehingga dapat di artikan sebagai Pemerintahan Rakyat, atau yang lebih di kenal sebagai pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Kekuasaan bisa menjadi candu bagi siapa yang menggenggamnya dan membuatnya terlena.

Dan untuk sebagian orang merebut kekuasaan justru menjadi pilihan hidupnya. Tak sedikit manusia yang menukarkan hal hal terbaik dalam hidupnya hanya demi sebuah kekuasaan. Machievelli pemikir yang merupakan pelopor teori kekuasaan mengatakan bahwa jika negara ingin kuat, maka rakyat harus lemah, sebaliknya jika rakyatnya kuat maka negara lemah. Oleh karena itu demokrasi harus di junjung tinggi sebagaimana mestinya orang berBamai ramai memburu kekuasaan sudah di tangan, orang berusaha mati matian mempertahankannya.

Bahkan sudah mau mati pun, orang tetap berusaha agar kekuasaan yang sudah di pegang sebisa mungkin di wariskan kepada anak cucu dan orang orang terdekat. Banyak contoh dan cerita yang bisa memperkuat konklusi tersebut. Bahkan itu telah terjadi sejak zaman nabi Adam hingga hari ini dan mungkin sampai nanti hari kiamat tiba. Kekuasaan itu serupa candu, bukti sejarah mencatatnya bahwa manusia merupakan mahluk pendamba kekuasaan. Antiesa dan itu lahirlah demokrasi sebagai kritik keras terhadap oligarki dan monarki. Menjadi ironis apabila demokrasi yang bertumpu pada terbukanya akses semua lapisan masyarakat.

Dinamika kekuasaan itu candu, terlihat dalam politik Indonesia, di mana orang nomor satu di Indonesia melibatkan keluarga/orang terdekatnya bergabung bersama parpol dan ancang ancang untuk maju sebagai kandidat pilkada. Bagaimana mungkin bisa kekuasaan di sebut candu jika di dalamnya banyak orang yang terlibat dan merasa tergiur pula rasa ketagihan yang terus menerus menghantui, sehingga berbagai cara di lakukan agar terus bisa mempertahankan kekuasaan di negeri ini.




Namun demikian, politik tidak selalu berdiri sendirian, segala cara akan terus di lakukan untuk mendapat segala yang diinginkan. Salah satu yang terlibat dalam politik tersebut adalah agama, dimana agama menjadi sebuah tolak ukur keberhasilan sebuah kekuasaan dengan mengatas namakan tuhan semesta alam.

Contoh keras dalam hal ini adalah agama islam yang terus di porak porandakan menjadi ajang kompetisi yang di lakukan agar mendapatkan hasil yang maksimal, terlebih Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki mayoritas agama islam. Kecanduan kekuasaan akan terus berlangsung turun temurun bahwasannya di dalam kekuasaan tersebut memiliki banyak aspek yang dapat menjamin keberlangsungan hidup serta aspek yang akan memanjakan penikmatnya.

Lalu bagaimana dengan nasib bangsa ini? Bangsa yang telah di perjuangkan habis habisan dengan tumpah darah yang selalu menghiasi.Namun Bung Karno sendiri pernah berkata “perjuanganku lebih mudah karena melawan penjajah, perjuangan kalian akan lebih sulit karena melawan bangsa sendiri.

Perjuangan bertahun-tahun melawan penjajah memang telah usai. Para penjajah berhasil di usir dari bumi Indonesia,namun perjuangan kita belum benar benar selesai,ada banyak pekerjaan rumah untuk membangun negara yang lebih kuat dan makmur tapi hal ini sungguh tidak mudah begitu saja terwujud.

Kemerdekaan melawan penjajah memang telah usai namu keadilan belum sepenuhnya kita miliki. Masih ada segelintir orang yang memikirkan kepentingan diri sendiri di atas kepentingan negeri. Lebih lebih jika para penguasa memandang diri sendiri di atas segalanya berada di kursi pemerintahan.




Inilah yang di sebut dengan “Candu kekuasaan di negara demokrasi”. Maka jangan heran , kalau ada kebohongan dan janji yang tercederai dari penguasa. Karena karakter kekuasaan itu adalah melenakan dan memabukan, maka para penguasa cenderung lengah, suka mengabaikan, dan lalai akan janji janjinya.

Tapi muslihat,saling menghina melalui puja puji, bertebar di mana mana, karena para penguasa cerdiklihai menyebarkan aroma kebencian di jagat raya yang mereka kuasai. Rakyat akhirnya berlomba-lomba menjadi penguasa.

Kaum cendekia yang semula bertugas mengampuh kebenaran juga berburu kursi kekuasaan, tak peduli usia mulai senja atau mata mulai rabun. Kini kekuasaan benar-benar telah memabukan. Mengapa kekuasaan politik bisa di katakan candu/memabukan? Karena sejatinya kCekuasaan bersifat menggiurkan, tak sedikit wakil wakil rakyat yang terus maju untuk mempertahankan kekuasaan seperti halnya yang terjadi di Indonesia, seorang pemimpin negara tidak cukup dengan sekali berkuasa, ketika sudah satu kali maka dia akan terus memperjuangkan kekuasaan agar tetap berada di tangannya.




Hal seperti inilah yang menjadi sebuah teka teki,kepentingan rakyat atau kepentingan pribadi. Banyak orang yang berbondong bondong untuk duduk di bangu kekuasaan, namun pada akhirnya kekuasaan yang sedang berlangsung atau di perebutkan di masa sekarang tidak ada gunanya di saat fase fase terakhir seperti yang sedang berlangsung. Dalam buku karya Iman N.Hosein yang menyatakan bahwa saat fase terakhir dari kekuasaan itu sendiri akan kembali kepada hukum yang absolut.

Dengan begitu, siapapun yang menguasai suatu negara ataupun dunia. Pada akhirnya akan ada masanya umat muslim yang menguasai seluruh dunia. Nabi Muhamad SAW. Telah di perlihatkan oleh Allah bagaimana takdir Jarusalem di kuasai oleh Yahudi namun pada akhirnya akan di kuasai kembali oleh kaum muslimin, dan mungkin saat itulah akan memasuki fase akhir jaman. Ditulis Amalia Kartika oleh mahasiswa semester 1 mata kuliah pengantar politik, prodi ilmu komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Untirta

Lihat Juga