Asap Gas Air Mata: Berbahayakah Jika Digunakan Untuk Memukul Mundur Massa Aksi?



Jurnalis.my.id- Setiap berlangsungny aksi massa, aparat kepolisian sering menggunakan gas air mata untuk memukul mundur massa. Walhasil, banyak dari massa aksi berpencar mencari tempat yang minim paparan gas-nya.

Tanggal 24-30 September 2019---sempat berlangsung aksi protes menolak RUU yang akan disahkan---juga RUU yang harus disahkan (RUU-PKS). Secara terus menerus, gas air mata ditembakan ke udara dan tanah.

Ternyata bukan hanya massa aksi yang menjadi korban---namun juga pekerja di sekitarnya. Salah satu korbannya adalah Dimas Ady Putranto---karyawan perusahaan Laku 6 yang bertempat di Bendungan Hilir---ia mengaku jika kantor perusahaannya diliburkan.

"Gila pokoknya, kantor gue diliburin gara-gara paparan gasnya sudah kacau---masuk ke dalam ruangan kerja gue," ungkapnya saat membagi pengalamannya dengan reporter BantenEkspose.com, Rabu (16/10/2019)

Kajian Akademisi Untirta Terkait Dampak Gas Air Mata
Reporter BantenEkspose.com yang saat itu sedang meliput aksi protes tanggal 30 September 2019---juga terkena dampak dari paparan gas air mata.

Banyak korban berjatuhan, diantaranya sesak nafas hingga pingsan. Saat itu paparan gas air mata meluas dari Jl. Gatot Subroto hingga ke Semanggi.

Salah satu akademisi Pendidikan Kimia---Universitas Sultan Ageng (Untirta)---Indah Langitasari, S.Si., M.Pd memaparkan bahaya gas air mata.

"Kalau senyawa aktifnya yang saya tahu ada Chloroacetophenone (CN), Chlorobenzylidenemalononitrile (CS)---itu juga sama-sama bahan organik-sintetis," paparnya

Dikatakan Indah, aparat lebih sering menggunakan tipe CS untuk mengaburkan konsenterasi dan memukul mundur massa. Tipe yang satu ini lebih berbahaya ketimbang tipe CN. "CS lebih kuat daripada CN---kalau dilihat dari Material Safety Data Sheets (MSDS)-nya---keduanya sama-sama gas beracun, menyebabkan iritasi, bahaya bagi kesehatan seperti; iritasi atau peradangan," jelasnya

Selain itu, Indah juga memaparkan jika di dalam tabung CS memiliki beberapa senyawa pendukung. Namun, secara keseluruhan dinilai sebagai senyawa beracun.
"Untuk CS itu kan turunan benzena----di dalam satu tabung ini, CS ada tambahan zat lain seperti; Kalium Nitrat, Potasium Nitrat, ada arang dan juga silikon," paparnya tentang kandungan senyawa pendukung tipe CS. Jelas itu beracun," tambahnya
Dampak langsung yang dirasakan bukan hanya iritasi---tapi juga bisa menyebabkan mual dan muntah-muntah---tergantung berapa banyak gas yang dihirup.

Indah mengatakan, jika paparan gas air mata akan langsung bereaksi dalam waktu 30 detik. Namun, saat aksi protes tanggal 30 September 2019, aparat kepolisian menembakannya selama kurun waktu 8 jam lebih, yakni; pukul 16:00 WIB - 23:15 WIB.

"Kalau menghirupnya banyak, itu bisa menyebabkan mual sampai muntah-muntah---kalau nggak kuat bisa sampai pingsan," tegasnya

Akan tetapi, paparan gas air mata juga tidak langsung hilang---namun juga akan menempel di pakaian yang dikenakan orang yang terdampak paparan gas air mata.

"Semua zat sudah menempel---otomatis pakaian itu harus langsung ditanggalkan atau diganti---paparannya tetap menempel di pakaian," jelasnya

Selain berbahaya buat kesehatan, gas air mata---terutama tipe CS---mampu merusak lingkungan jika digunakan aparat kepolisian secara terus menerus.

"Misalkan disitu ada sungai atau pohon---itu bisa menimbulkan pencemaran. Tapi, kalau terus menerus ditembakan---tendensius merusak lingkungan---CS berbahaya buat lingkungan," tutupnya. (Gilang Prabowo)

Lihat Juga