Makalah Studi Kebantenan Mengenal Masyarakat Banten



MAKALAH STUDI KEBANTENAN
MENGENAL  MASYARAKAT  BANTEN


Disusun Oleh  :
Ujib Mu’Mini (5502170020)

Dosen Pengampu :
Nurul Hidayat M.,Si

UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
D3 MARKETING
 TAHUN 2018



KATA PENGANTAR

Pertama-tama penulis panjatkan Puji dan Syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat Rahmat-Nyalah makalah ini dapat terselesaikan. Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk menyelesaikan tugas STUDI KEBANTENAN ,Selain itu juga untuk meningkatkan pemahaman saya mengenai materi .

Dengan membaca makalah ini penulis berharap dapat membantu teman-teman serta pembaca dapat memahami materi ini dan dapat memperkaya wawasan pembaca. Walaupun penulis telah berusaha sesuai kemampuan penulis, namun penulis yakin bahwa manusia  itu tak ada yang sempurna. Seandainya dalam penulisan makalah ini ada yang kurang, maka itulah bagian dari kelemahan penulis.Mudah-mudahan melalui kelemahan itulah yang akan membawa kesadaran kita akan kebesaran Tuhan Yang Maha Esa.
Pada kesempatan ini saya mengucapkan  terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini dan kepada pembaca yang telah meluangkan waktunya untuk membaca makalah ini.Untuk itu saya selalu menantikan kritik dan saran yang membangun dari pembaca demi perbaikan penyusunan makalah ini.

Serang, 6 Oktober 2018


        Penulis


  
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ……………………………………………………………………  2

DAFTAR ISI …………………………………………………………………………….    3

BAB I PENDAHALUAN ……………………………………………………………….   4
       I.            LATAR BELAKANG …………………………………………………………..    4
    II.            RUMUSAN MASALAH ………………………………………………………..   4
 III.            TUJUAN PENULISAN …………………………………………………………   4
           
BAB II PEMBAHASAN ………………………………...………………………………  5
A.    PERKEMBANGAN MASYARAKAT BANTEN PADA MASA PRASEJARAH ..  5
B.     BANTEN DAN IDENTITAS …..…………………….......................................…...     9
C.     ORANG KANEKES? ………………………………………………………………..  11
D.    BANTEN ADALAH ETNIS? ……………………………………………………….   13
E.     PENGARUH ISLAM TERHADAP MASYARAKAT BANTEN …………………   16

BAB III PENUTUP ………………………………………………………………………  19
KESIMPULAN …………………………………………………………………..   19

DAFTAR PUSTAKA ……………………………………...…………………………….   20






BAB I
PENDAHULUAN
I. Latar Belakang
Wilayah Banten terletak di Pulau Jawa,yang pada masa kuarter pada kala Pleston (±1,8 juta tahun yang lalu ),diperkirakan berhubungan dengan Benua Asia bersama – sama dengan pulau – pulau yang terletak di bagian barat Indonesia,yaitu Sumatera dan Kalimantan (Bemmelen, 1949).Daratan yang menghubungkn Indonesia bagian barat dengan daratan Asia disebut sebagai Paparan Sunda (Sunda Shelf).Sementara itu pulau - pulau di bagian timur Indoneaia terhubungkan dengan Australia oleh daratan yang disebut Paparan Sahul (Sahuk Shelf).Penyatuan wilyah tersebut dengan wilayah daratan Asia terjadi karena penurunan permukaan air laut sebagai akibat dari pengumpulan air di kutub menjadi (glasiasi) (Beggren and van Counvering,1979).Pada masa inilah terjadi penyebaran penduduk ke seluruh Nusantara.Ketika glasiasi berakhir,daratan – daratan yang tadinya menyatu,terpisah kembali.Dengan ditemukannya singkapan endapan tanah dformasi plestosen di Banten,maka diyakini bahwa daerah Banten muncul semasa dengan munculnya Benua Asia (Semah,1990:39)

II. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan sebelumnya, maka dapat
dirumuskan permasalahan sebagai berikut : “Bagaimana masyarakat Banten berkembang dari masa ke masa?”
III. TUJUAN PENULISAN
1.      Untuk mengetahui silsilah kemanusiaan masyarakat banten dari dulu sampai saat ini.
2.      Untuk mengetahui budaya pada jaman itu.
3.      Untuk mengetahui pengaruh eksternal pada jaman itu
BAB II
PEMBAHASAN
A.PERKEMBANGAN BUDAYA MASYARAKAT BANTEN MASA PRASEJARAH
Perkembangan budaya manusia pada masa prasejarah secara umum digambarkan berupa tahapan – tahapan yang memiliki ciri – ciri tertentu.Budaya masyarakat prasejarah Indonesia dibagi menjadi tiga tingkatan penghidupan,yaitu pertama, masa berburu dan mengumpulkan makanan;kedua masa bercocok tanam ;dan ketiga masa kemahiran teknik (perundagaian) (Sartono dalam Michrob dan Chudari,1993;21)
Adanya tahapan perkembangan kebudayaan dengan ciri – ciri tersebut kadang – kadang tidak ditemukan di semua wilayah,Beberapa wilayah di antara nya tidak memiliki tinggalan budaya yang lebih muda.Bedsarkan hasil penelitian aerkeologis selam ini, dapat disimpulkan bahwa secara kronologis wilAYAH Banten telah mengalami semua tahapan atau tingkatan budaya prasejarah tersebut.

v  MASA BERBURU DAN MENGUMPULKAN MAKANAN
Tidak banyak keterangan tentang kehidupan mas berburu dan mengupulkan makanan tingkat sederhana yang terdapat di wilayah Banten.Namun bisa diperkirakan bahwa pada tahap awal dalam kehidupan masa berburudan mengumpulkan makanan,masyarakat sangat bergantung pada alam.Begitu juga dengan alat perkakas yang mereka pakai.Hampir semua bentuk produk budaya pada masa ini adalah hasil penggunaan langsung dari bahan – bahan yang ada di alam,seperti batu dan tulang – tulang binatang hasil buruan.
 Di Cigeulis,Pandeglang telah ditemukan kapak perimbas,alat penetak,pembelah, dan alat serpih.Di samping itu ditemukan pula lukisan gua Sanghiyang Sirah,Ujung Kulon (Djubiantono,1997).Ini menunjukan bahwa manusia waktu itu hidup di gua-gua.Pada tahap akhir dari kehidupan masa berburu dan mengumpulkan makanan itu, memang diamsumsikan orang sudah mulai hidup di gua – gua walaupun tidak tetap.Gua – gua tempat tinggal sementara itu biasanya berada tidak jauh dari danau atau aliran sungai yang memiliki sumber – sumber makanan seperti ikan,kerang, dan siput.

   MASA BERCOCOK TANAM
 Ketika manusia sudah bermukim di gua – gua,maka lahirlah masa bercocok tanam.Saat itu,manusia sudah mahir mengupam(mengasah) alat – alat batu.Alat – alat batu yang pada umumnya diasah adalah beliung,kapak batu dan di beberapa tempat pengasahan dilakukan juga pada mata tombak dan mata panah.Selain beliung dan kapak batu ,pada masa itu juga dihasilkan alat-alat obsidian dan mata panah yang digunakan sebagai alat berburu,serta alat pemukul kayu dan perhiasan.Selai itu,para ahli pada umumnya menganggap munculnya religi tahap paling awal ialah masa bercocok tanam.
Pada tahun 1980,Di kampung Odel,Desa Kasunyutan,kecamatan Kasemen,sekitar 2 km disebelah selatan Masjid Agung Banten,,diemukan berbagai benda hasil budaya prasejarah seperti alat serpih,bilah ,beliung persegi gerabah,manik – manik,fragmen gelang dan cincin perunggu,yang seluruhnya bercampur dengan temuan yang berciri Banten Islam (Michrob dan Chudari,1991;23–24).Selain itu,ditemukan pula alat-alat neolitik di daerah Tangerang,Ciledug,Serang dan Pandeglang (Hoop,1941)

     BUDAYA MEGALITIK
            Para ahli memprkirakan budaya megalitik yang masuk ke Indonesia melalui dua gelombang besar.Gelombang pertama,yang disebut megalitik tua,diperkirakan masuk ke Indonesia sekitar 2.500 – 1.500 tahun sebelum Masehi,ditandai oleh pndirisn monument – monument batu seperti menhir,undak batu, dan patung – patung simbolis – monumental.Gelombang kedua disebut sebagai megalitik muda diperkirakan masuk ke Indonesia sekittar awal abad pertama sebelum Masehi hingga abad-abad pertama Masehi(Soejono,et al.,1984 : 224).Monumen – monument bartu yang mewakili kelompok tinggalan megalitik muda antara lain berupa monument kubur peti batu,dolmen semu dan sarkofagus.

  Peninggalan budaya megalitik,di wilayah Banten,terdapar di kabupaten Serang,Pandeglang dan Lebak.Di Serang dan Pandeglang banyak dijumpai dolmen menhir batu gong,altar batu,,batu dakon batu bergores dan arca tipe Polinesia.Di Lebak,juga diemukan jenis – jenis tinggalan seperti di kedua kabupaten yang telah disebut dan banguna  megalit berupa punden berundak.Di kabupaten Lebak,asda tiga tinggalan  megalit, yaitu punden berundak Lebak Sibedug,Kosala, dan punden Arca Domas (Soejono,et al ,1984 ;Ambary1991 :397;Michrob 1988).

Punden berundak Lebak Sibedug yang terletak di Dusun Cibedug,Desa Citorek,kecamatan Cibeber ini berada pada sebuah bukit di tepi Sungai Cibedug,pada ketinggian 645 m dpl.Areal wilayah itu merupakan tanah perbukitan dan hutan lindung dalam kawasan Taman Nasional Gunung Halimun yang merupakan benteng alam atau bagian dari deretan Pegunungan Barisan serta Gunung Honje di Ujung Kulon.

  Lebak Cibedug berbentuk banguna teras berundak disusun dari batu kali dan berorientasi barat – timur.Bangunan itu terdiri dari tiga bangunan berteras,yaitu halaman depan ,halam tengah ,dan halaman belakang (bangunan inti) ,yang secara keseluruhan berjumlah sebelas teras.Situs Lebak Cibedug menurut beberpa ahli prasejarah antara lain Van der Hoop,R.von Heine Gelderen,R.p .Soejono digolongkan kepada bangunan megalitik prasejarah.

Kompleks bangunan Lebak Cibedug samapi saat ini masih dikeramatkan oleh penduduk sekitarnya yang mayoritas memeluk agama islam.Dalam kaitannya dengan pelaksanaan bercocok tanam (padi), mereka melakukan upacara dengan dipimpin oleh seorang ketua adat “Abah Klot”. Upacara itu,pada intinya memohon restu leluhur agar diberi hasil panen yang melimpah dan dijauhkan dari hama penyakit .(Jatmikom,1998 159-160).Punden berundakdi Kosala agaknya memiliki hubungan dengan Arca Domas di daerah Baduy,Banten Selatan.Monumen – monumennya berupa batu berundak lima tingkat,dan pada tiap undak terdapat menhir.Disitus itu pula terdapat arca dengan posisi duduk bersila,dengan kedua tangan dilipat ke depan ,dan salah satu tangannya mengacungkan tangan ibu jari

Di kampung Gunung Julang, Desa Lebak Situ,kecamatan Cipanas,ditemukan sebuah situs yang dikenal sebgai situs Ciwongwongan,situs ini berad pada ketinggian 625 m dpl ,13 m disebelah barat aliran sungai kecil Ciwongwongan,selain fragmen bangunan,ditemukan linga – yoni terbuat dari bongkahan batu putih,yang terkait (menyatu) satu sama lain.
Temuan lainnya berupa menhir,yang ditemukan di kecamatan Baros,Kabupaten Serang.Disini,menhir berada dalam satu kompleks.Di cikande,ditemukan semacam altar yang disebut penduduk sebagai “patapan” (tempat bertapa).

  TRADISI GERABAH
Tradisi pembuatan wadah yang terbuat dari bahan tanah liat atau yang disebut sebagai gerabah, telah berkembang pula di Banten. Di Tangerang terdapat tinggalan gerabah yang cukup tua. Teknik pembuatan gerabah pada masa bercocok tanam masih sangat sederhana, umumnya sangat rapuh, dan dibuat tanpa alat bantu serta dibakar pad suhu yang rendah

 MASA PERUNDAGIAN
Pada masa perundagian, masyarakat telah hidup menetap di desa-desa di daerah pegunungan, daerah rendah, dan tepi pantai dalam tata kehidupan yang makin teratur dan terpimpin. Kegiatan berburu  masih dilakukan, tetapi hanya merupakan kegiatan selingan. Perburuan dilakukan dengan menggunakan tombak, panah, dan jerat yang dibuat dari bamboo dan rotan. Kemajuan yang dicapai pada masa perundagian tidak hanya terjadi pada pola hunian, tetapi juga pada bidang teknologi yang ditandai oleh dikenalnya berbagai teknik penuangan logam, begitu juga di bidang kepercayaan, kesenian, dan perdagangan yang sejalan dengan kemajuan yang dicapai di bidang teknologi pelayaran. Pembuatan dan penggunaan logam sering dikaitakan dengan kebudayaan Dongson. Penemuan berbagai kapak perunggu tipe kapak corong di Pamarayan, Kopo, Pandeglang, Cikupa, dan Cipari. Temuan penting lainnya adalah sebuah nekara perunggu tipe Heger IV, yang berbentuk seperti dandang terbalik, bagian atas datar dan bagian bawah terbuka. Walaupun kemahiran seni tuang logam merupakan ciri khas masa perundagian, peranan gerabah tidak begitu mudah digantikan oleh benda-benda logam.

Aspek kehidupan lain yang sangat menonjol pada masa perundagian adalah segi kepercayaan kepada pengaruh arwah nenek moyang terhadap perjalanan hidup manusia dan masyarakatnya. Pada masa itu perlakuan pengagungan terhadap arwah nenek moyang sangat diperhatikan dan diwujudkan melalui upacara-upacara. Demikian pula terhadap orang-orang yang meninggal diberikan penghormatan dan persiapan selengkap mungkin dengan maksud mengantar arwah dengan sebaik-baiknya ke tempat tujuannya, yakni Dunia Arwah. Dari hasil temuan arkeologis dapat diketahui bahwa pelaksanaan penguburan orang yang meninggal melalui dua cara, penguburan langsung (primer) dan penguburan tidak langsung (sekunder). Penguburan langsung (primer) mayat langsung dikuburkan di tanah atau diletakkan dalam wadah di dalam tanah. Penguburan itu biasanya dilakukan di sekitar tempat tinggal dan seringkali mayat diletakkan mengarah ke tempat yang dipandang sebagai tempat asal-usul suatu kelompok penduduk atau ke tempat yang dianggap sebagai tempat arwah nenek moyang bersemayam. Penguburan tak langsung (sekunder) dilakukan dengan mengubur mayat lebih dahulu dalam tanah atau kadang-kadang dalam peti kayu yang dibuat seperti perahu. Kuburan itu dianggap sebagai kubur sementara karena upacara yang terpenting dan terakhir dari rangkaian prosesi penguburan belum dapat dilaksanakan. Setelah semua persiapan untuk upacara disediakan, mayat yang sudah jadi rangka digali kembali, kemudian melalui upacara tertentu dibersihkan atau dicuci dan kemudian baru dibungkus dan dikuburkan kembali di tempat yang telah disediakan. Penguburan yang kedua ini dapat dilakukan dengan menggunakan tempayan, kubur batu, atau tanpa wadah di dalam tanah.

Proses penguburan primer ditemukan di Anyer pada tahun 1954. Tempayan kubur anyer ini berisi tulang-tulang manusia yang mayatnya dikuburkan secara langsung beserta benda-benda gerabah dan atau perunggu yang berfungsi sebagai bekal kubur. Penemuan-penemuan yang telah diuraikan di atas menujukan bahwa wilayah banten telah dihuni manusia sejak masa bercocok tanam bahkan mungkin sejak masa berburu dan mengumpul makanan. Bukti-bukti yang mendukung hal ini, meskipun sangat disayangkan sebagian lokasi penemuan dihancurkan untuk keperluan pembangunan Bandara Soekarno-Hatta.

Penemuan – penemuan yang telah diuraikan diatas menunjukan bahwa wilyah banten telah dihuni manusia sejak masa bercocok tanam  bhkan mungkin sejak masa berburu dan mengupulkan makanan.Bukti – bukti yang ada mendukung hal ini ,meskipun sangat disayangkan ,sebagian lokasi penemuan dihancurkan untuk keperluan pembanguna  Bandara Soekarno-Hatta (Michrob dan Chudari,1993:30).

    MASA PRA TARUMANEGARA
Berabad-abad sebelum masuknya pengaruh Hindu-Budha ke Pulau Jawa sudah banyak bukti adanya masyarakat yang sudah memiliki kebudayaan sebagaimana telah diuraikan dalam bab terdahulu. Sejarah banten pada awal abad Masehi tidak mudah ditemukan atau untuk direkonsutruksi karena keterbatasan sumber. Namun demikian, kita berharap sumber asing dapat memberikan keterangan, karena Banten diduga sudah memiliki hubungan dengan dunia luar. Sumber asing pertama yang secara samar-samar berkaitan dengan Banten adalah sumber tertulis yang berasal dari Yunani, yaitu Geographike Hypgenesis adalah karya Claudisius Ptolemareus. Dalam sumber ini disebutkan tentang sebuah tempat bernama Argyre yang terletak di ujung pulau barat Iabadiou. Istilah ujung pulau barat tersebut dalam bahasa sanskerta adalah Yawadwipa yang berarti “Pulau Jelai”. Yawadwipa itu anggap sama dengan Jawa; dank arena argryre berarti “perak”, sementara di ujung barat pulau jawa terletak sebuah kota bernama Merak. Biasanya merak itulah yang dimaksudkan dengan argryre dalam berita yunani itu. Jika dugaan itu benar, maka seharusnya dilakukan koreksi atas nama ibu kota itu, bukan merak yang berarti burung merak, melainkan merak yang berarti memerak, putih seperti perak.

  MASA KERAJAAN TARUMANEGARA
Berita selanjutnya muncul lagi dari Cina; pada abad ke-5. Berdasarkan penelitian sumber-sumber yang ada dapat diketahui bahwa hubungan antara cina dengan nusantara diduga baru ada setelah terjadi perluasan kekuasaan Kerajaan Cina ke daerah Tonkin di Vietnam, yaitu pada masa Dinasti Ch’in dan Han sekitar akhir abad ke 2 Masehi. Sumber tertulis yang memberitakan tentang Tarumanegara adalah berita Cina, masing-masing berasal dari Fa-Shien tahun 414, Dinasti Soui dan T’ang, serta tujuh buah prasasti batu yang ditemukan di daerah yang cukup berjauhan, dari dusu Batu Tumbuh di Jak-Ut, melalui daerah Ciampera, Bogor, dan ke Cidanghiang di daerah Pandeglang, Banten. Penemuan prasasti di Kecamatan Munjul, Kabupaten Pandeglang, Banten, mempertegas informasi tentang Banten. Prasasti itu terletak di tepi Sungai Cidanghiang dan baru ditemukan pada tahun 1947. Prasasti terdiri atas dua baris aksara berbentuk seloka dalam irama anutusbh, beraksara Pallawa dengan bahasa Sanskerta. Dari informasi dalam prasasti di atas, terbukti bahwa wilayah Banten waktu itu bersubordinasi di bawah kerajaan Tarumanegara. Berdasarkan prasasti lainnya dapat diperkirakan bahwa pengaruh kekuasaan kerajaan Tarumanegara pada masa pemerintah Purnawarman, setidaknya meliputi Kabupaten Pandeglang, Cisadane-Tangerang, Kabupaten Bogor bagian selatan, dan daerah Jakarta di bagian utara, Bekasi dan Karawang. Pada akhirnya bahwa sekitar abad ke-5, tepatnya di daerah antara sungai Cisadane bahkan Cidanghiang di Banten sampai Sungai Citarum telah berkembang sebuah kerajaan besar bernama Tarumanegara. Kedudukan sungai tersebut sangatlah strategis. Berdasarkan data yang ada, hanya diketahui aksara pallawa dan bahasa Sanskerta yang dikenal pada masa Tarumanegara. Para Arkeolog juga telah menemukan patung Ganesha, patung Siwa, dan lingga semu/lingga patok di lereng Gunung Raksa, Pulau Panaitan, yang dapat menjadi bukti awal bahwa pada abad ke-7, di sana masyarakatnya beragama Hindu. Dari penelitian geologis, pulau panaitan diperkirakan sudah ada sejak 26 juta tahun yang lalu.

B.BANTEN DAN IDENTITAS
Secara historis, kata Banten (Bantam) apabila dikaitkan dengan nama sebuah tempat, pada mulanya merupakan sebuah kota pelabuhan yang telah ada sejak abad ke lima dan menjadi wilayah kekuasaan kerajaan Tarumanegara. Salah satu prasasti yang menyebutkan tentang keberadaan kerajaan Tarumanegara adalah Prasasti Cidanghiyang atau yang lebih dikenal sebagai prasasti Lebak yang ditemukan pada tahun 1947 di kampung Lebak di tepi sungai Danghiyang, Kecamatan Munjul, Pandeglang. Sedangkan rujukan tertulis pertama yang menyebut “Banten” sebagai sebuah tempat ditemukan pada naskah Sunda kuno Bujangga Manik yang menyebutkan nama-nama tempat di Banten dan sekitarnya sebagai berikut Tanggeran Labuhan Ratu, Ti kaler alas Panyawung, Tanggerang na alas Banten…. Banten pada saat itu telah menjadi kawasan perdagangan yang sangat penting dengan komoditi utamanya berupa lada dan beras sehingga menjadikannya sebagai daerah yang mencapai kemakmuran ekonomi masyarakatnya yang tinggi. Pada perkembangan selanjutnya terdapat dua tempat yang bernama Banten di Kota Serang, yaitu 1. Banten Girang yang terletak di Desa Sempu, Kelurahan Cipare, Kecamatan Serang dan 2. Banten Lama yang terletak di Kecamatan Kasemen.

Saat ini, jika kita mendengar kata “Banten” mungkin nama itu akan selalu kita hubungkan dengan nama sebuah provinsi baru bernama Banten yang terbentuk berdasarkan Undang-Undang  Nomor 23 Tahun 2000 [tentang Pembentukan Provinsi Banten (PPB)] pada tanggal 17 Oktober 2000. Pada awal terbentuknya sebagai sebuah provinsi, Banten terdiri dari empat kabupaten dan dua kota yaitu Kabupaten Serang, Kabupaten Pandeglang, Kabupaten Lebak, Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang dan Kota Cilegon. Pada tahun 2007, Kota Serang memisahkan diri dari Kabupaten Serang dan sejak tanggal 29 Oktober 2008, Kota Tangerang Selatan (Tangsel) juga terpisah dari Kabupaten Tangerang. Dengan demikian, wilayah Banten kini terdiri atas empat kabupaten (Kabupaten Serang, Kabupaten Tangerang, Kabupaten Pandeglang, dan Kabupaten Lebak), dan empat kota (Kota Serang, Kota Tangerang, Kota Tangerang Selatan, dan Kota Cilegon). Kecuali Kabupaten Pandeglang dan Kabupaten Lebak berada dikawasan Banten bagian Selatan, yang lainnya termasuk dalam kawasan Banten bagian Utara. Secara keseluruhan luas wilayah Provinsi Banten adalah 8.800,83 km2 (Biro Humas Provinsi Banten, 2005:5). Dengan terbentuknya sebagai provinsi, sebenarnya tidak terdapat wilayah kabupaten maupun kota yang menggunakan nama “Banten”. Namun secara administratif berdasarkan ketetapan UU No 23 Tahun 2000 terdapat sebuah provinsi bernama Banten. Banten di abad ke lima merupakan daerah kekuasaan

kerajaan Tarumanegara. Setelah runtuhnya kerajaan Tarumanegara  akibat serangan kerajaan Sriwijaya, Banten menjadi wilayah kerajaan Sunda Pajajaran. Menurut naskah Wangsakerta, kerajaan Sunda (669-1579 M) didirikan oleh Caka Sunda dan beribukota di Pakuan (Bogor). Dalam naskah kuno primer Bujangga Manik disebutkan bahwa batas kerajaan Sunda di sebelah timur adalah Ci-Pamali (sungai Pamali, sekarang disebut kali Brebes) dan Ci-Serayu (kali Serayu) yang berada di provinsi Jawa Tengah. Tome Pires dalam catatan perjalanannya Suma Oriental (1512-1515) menyebutkan bahwa Banten menjadi salah satu pelabuhan utama dari Kerajaan Sunda selain pelabuhan Pontang, Cigede, Tamgara (Tangerang), Kalapa (Jakarta), dan Cimanuk. Meskipun Banten pada saat itu dikenal sebagai pelabuhan utama, namun posisi Banten pada saat itu tidak berada di pesisir melainkan berada sepuluh kilometer kearah daratan, tepatnya diatas sungai Banten (Ci-Banten) sehingga dikenal dengan nama Banten Girang (Banten dihulu sungai). Sebagai kawasan pelabuhan dan perdagangan yang maju menyebabkan Banten tumbuh menjadi kawasan pemukiman yang ramai. Berdasarkan riset yang dilakukan di Banten Girang pada tahun 1988 dalam program Franco-Indonesian excavations, ditemukan bahwa telah ada pemukiman serta Banten telah dikelilingi oleh benteng sebagai bentuk pertahanan.

kerajaan Tarumanegara. Setelah runtuhnya kerajaan Tarumanegara  akibat serangan kerajaan Sriwijaya, Banten menjadi wilayah kerajaan Sunda Pajajaran. Menurut naskah Wangsakerta, kerajaan Sunda (669-1579 M) didirikan oleh Caka Sunda dan beribukota di Pakuan (Bogor). Dalam naskah kuno primer Bujangga Manik disebutkan bahwa batas kerajaan Sunda di sebelah timur adalah Ci-Pamali (sungai Pamali, sekarang disebut kali Brebes) dan Ci-Serayu (kali Serayu) yang berada di provinsi Jawa Tengah. Tome Pires dalam catatan perjalanannya Suma Oriental (1512-1515) menyebutkan bahwa Banten menjadi salah satu pelabuhan utama dari Kerajaan Sunda selain pelabuhan Pontang, Cigede, Tamgara (Tangerang), Kalapa (Jakarta), dan Cimanuk. Meskipun Banten pada saat itu dikenal sebagai pelabuhan utama, namun posisi Banten pada saat itu tidak berada di pesisir melainkan berada sepuluh kilometer kearah daratan, tepatnya diatas sungai Banten (Ci-Banten) sehingga dikenal dengan nama Banten Girang (Banten dihulu sungai). Sebagai kawasan pelabuhan dan perdagangan yang maju menyebabkan Banten tumbuh menjadi kawasan pemukiman yang ramai. Berdasarkan riset yang dilakukan di Banten Girang pada tahun 1988 dalam program Franco-Indonesian excavations, ditemukan bahwa telah ada pemukiman serta Banten telah dikelilingi oleh benteng sebagai bentuk pertahanan.

C. ETNIS BANTEN?
Istilah Banten sebagai sebuah etnis tersendiri dan dibedakan dengan etnis Sunda maupun etnis Jawa muncul pertama kali pada publikasi hasil Sensus Penduduk Tahun 2000, yang menerapkan kriteria ‘Banten’ sebagai suatu etnis atau suku bangsa ke dalam pertanyaan sensus. Selama Orde Baru, publikasi mengenai etnisitas hasil sensus penduduk tidak pernah dilakukan. Hal ini senada dengan pendapat Koentjaraningrat (1984:8) yang berpendapat bahwa tidak dicantumkannya daftar pertanyaan mengenai etnisitas dikarenakan masalah asal usul atau identitas etnis dianggap sebagai masalah rawan bagi kepentingan persatuan nasional. Baru pada sensus penduduk tahun 2000 kriteria etnis atau suku bangsa ada dalam daftar pertanyaan. Apabila merujuk pada pengertian yang dipakai BPS pada sensus 2000, pengertian etnis atau suku bangsa adalah golongan etnis responden. Artinya responden mengidentifikasi dirinya sebagai etnis apa.

Sensus penduduk tahun 2000 memasukkan orang Indonesia ke dalam 19 kelompok etnis, yaitu kelompok etnis Jawa, Sunda, Melayu, Madura, Batak, Minangkabau, Betawi, Bugis, Banten, Banjar, Bali, Sasak, Makasar, Cirebon, Cina, Gorontalo, Aceh,Toraja, dan kelompok etnis “lain-lain”. Dari hasil sensus, terlihat bahwa etnis Jawa merupakan kelompok etnis terbesar di Indonesia (41,71%) dan etnis Sunda sebagai kelompok etnis terbesar kedua (15,41%). Sedangkan cacah jiwa untuk etnis Banten menghasilkan jumlah sebesar 4.113.162 jiwa (2,05%) untuk jumlah keseluruhan etnis Banten di Indonesia. Apabila dibandingkan dengan jumlah etnis Banten di provinsi Banten yang sebesar 3.785.925 jiwa, maka terdapat 327.237 orang asal etnis Banten yang berdiam di luar provinsi Banten. Apabila persebaran etnis Banten ini ditelusuri lebih lanjut, kita bisa mencatat sebanyak 64.487 etnis Banten mendiami provinsi Jawa Barat sekarang yang minus Banten, sementara 262.750 jiwa lainnya berada diluar provinsi Jawa Barat dan provinsi Banten. Hal ini menjadi menarik karena terdapat kelompok masyarakat di luar provinsi Banten dan Jawa Barat yang mengaku dirinya sebagai etnis Banten (orang Banten). Sayangnya penulis belum dapat menelusuri jejak orang-orang ini di berbagai propinsi di tanah air.

Berkaitan dengan penyebutan Banten sebagai suatu etnis, masyarakat Banten hingga hari ini percaya bahwa mereka terbentuk dari dua kebudayaan yaitu merupakan bagian dari Suku Sunda dan Jawa. Di masyarakat Banten pada masa kini terbagi atas dua wilayah yaitu wilayah Banten Selatan (Kabupaten Pandeglang dan Lebak) yang cenderung mewarisi kebudayaan Sunda. Sedangkan diwilayah Banten Utara (Kabupaten Serang, Kabupaten Tangerang, Kota Serang, Kota Tangerang Selatan dan Kota Cilegon) mewarisi kebudayaan Jawa (Cirebon). Pembagian wilayah Banten ini telah ada semenjak penjajahan Belanda. Pada masa itu, golongan etnik yang terbesar di Banten adalah Sunda yang kebanyakan berdiam di Banten Selatan. Orang-orang Kanekes sendiri sebagai inti Sunda mendiami daerah pegunungan di Selatan. Orang-Orang Jawa terdapat di bagian utara. Bagian utara yang membentang dari Anyer sampai Tanara secara administratif terbagi menjadi dua afdelingen, yakni Serang dan Anyer. Penduduk daerah ini merupakan keturunan orang-orang Jawa yang datang dari Demak dan Cirebon dan dalam perjalanan waktu berbaur dengan orang-orang Sunda, Bugis, Melayu dan Lampung. Selain terdapat perbedaan-perbedaan dalam bahasa dan adat istiadat, maka dalam hal penampilan fisik dan watak orang Banten Utara menunjukkan perbedaan yang nyata dengan orang-orang Sunda dan orang Jawa Tengah dan Jawa Timur. Di kalangan Belanda, orang Banten Utara fanatik dalam hal agama, bersikap agresif dan bersemangat memberontak”. Para priyayi Parahiyangan yang ditugaskan di Banten pada masa kolonial Belanda kesulitan untuk menyesuaikan diri dengan budaya masyarakat Banten. Penduduknya yang sangat fanatik terhadap agama dan kurangnya penghormatan terhadap kelompok priyayi, membuat orang luar yang ditempatkan di Banten merasa kaget dengan prilaku seperti itu. Karena itu masyarakat Banten di kalangan priyayi Parahiyangan dikenal sebagai “Banten bantahan”. Dengan demikian barangkali bisa disimpulkan bahwa proses “fusi kultural” kebudayaan Sunda tampak lebih berhasil di Pandeglang dan Lebak meski tidak secara total. Sementara di wilayah Banten lainnya: Cilegon, sebagian Serang dan Tangerang pengaruh Jawa (Cirebon) relatif kuat.

Menurut temuan Koentjaraningrat ketika menyusun atlas etnografi dunia adalah bahwa di wilayah Jawa Barat didiami oleh empat suku bangsa yaitu, orang Sunda, orang Jakarta, orang Baduy dan orang Banten. Masing-masing suku itu menempati daerah-daerah tertentu dan suku Banten menempati daerah bagian barat dari Jawa Barat. Atlas etnografi sedunia yang disusun oleh Koentjaraningrat, dibagi kedalam 25 peta khusus tidak berdasarkan atas negara-negara sebagai kesatuan politis  tetapi berdasarkan atas kompleksitas daerah-daerah kebudayaan yang masing-masing diklasifikasikan menjadi sejumlah suku-suku yang menunjukkan beberapa ciri kebudayaan yang secara menyolok tampak seragam. Konsep suku bangsa yang dipakai dalam hal ini adalah kesatuan manusia yang terikat oleh satu kesadaran atas kesatuan kebudayaan, namun kesadaran itu sering dikuatkan oleh kesatuan bahasa.

Pendapat ini didukung oleh Prof.Dr.Tihami yang menyatakan bahwa selain suku Sunda, Jawa maupun Kanekes, terdapat Suku Banten yang berbeda dari suku-suku lainnya. Menurut Tihami, tampaknya masyarakat Banten hanya menerima kenyataan tentang suku Sunda, Jawa dan Baduy saja. Suku Banten sendiri dianggap tidak ada. Anggapan ini disebabkan karena keterbatasan informasi dan publikasi, sehingga secara perlahan-lahan mengidentifikasi dirinya sebagai bagian dari suku-suku dominan di masyarakat Banten yaitu suku Sunda dan Jawa. Padahal jauh sebelum Sunan Gunung Jati menaklukkan Sunda Kelapa pada tahun 1527, menurut Guillot, suku Banten sudah ada dan berada dalam kondisi kemakmuran. Akan tetapi, kemudian eksistensi Banten sebagai sebuah entitas direduksi. Nama Banten hanya ditempatkan sebagai nama perkampungan yang terletak di Banten Lama, Kabupaten Serang.

Sebaliknya di masyarakat luas juga telah berkembang pendapat mengenai Banten, antara lain bahwa Banten terkenal sebagai gudangnya kyai disamping terkenal sebagai sebagai tempat the strongman (jawara, pemain debus) dan tempat yang terkenal dengan ilmu kleniknya. Jadi untuk menjawab pertanyaan, apakah sebenarnya terdapat etnis atau orang Banten perlu dilakukan suatu penggalian  lebih lanjut, baik melalui bukti otentik sejarah maupun melalui pemahaman tentang realita sosial di masyarakat Banten sendiri yang mulai muncul sebagai ‘orang Banten’ walaupun pada prakteknya lebih suka menyebut dirinya dengan mengacu pada daerah tempat tinggal mereka, misalnya orang Lebak, orang Pandeglang, orang Serang, orang Cilegon maupun orang Tangerang. Barangkali hal inilah yang menyebabkan identitas budaya Banten hingga kini menjadi timbul tenggelam (fade in-fade out). Sampai sekarang untuk melekatkan identitas Banten pada jenis produk kesenian, jenis makanan dan pakaian pun masih sulit, apalagi jika melekatkannya pada bahasa dan adat istiadat.

Potensi dan kekhasan budaya masyarakat Banten, antara lain seni bela diri Pencak silat, Debus, Rudad, Umbruk, Tari Saman, Tari Topeng, Tari Cokek, Dog-dog, Palingtung, dan Lojor. Di samping itu juga terdapat peninggalan warisan leluhur antara lain Masjid Agung Banten Lama, Makam Keramat Panjang, dan masih banyak peninggalan lainnya.

Di Provinsi Banten terdapat Suku Baduy. Suku Baduy Dalam merupakan suku asli Sunda Banten yang masih menjaga tradisi anti modernisasi, baik cara berpakaian maupun pola hidup lainnya. Suku Baduy-Rawayan tinggal di kawasan Cagar Budaya Pegunungan Kendeng seluas 5.101,85 hektare di daerah Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak. Perkampungan masyarakat Baduy umumnya terletak di daerah aliran Sungai Ciujung di Pegunungan Kendeng. Daerah ini dikenal sebagai wilayah tanah titipan dari nenek moyang, yang harus dipelihara dan dijaga baik-baik, tidak boleh dirusak.

Bahasa Penduduk asli yang hidup di Provinsi Banten berbicara menggunakan dialek yang merupakan turunan dari bahasa Sunda Kuno. Dialek tersebut dikelompokkan sebagai bahasa kasar dalam bahasa Sunda modern, yang memiliki beberapa tingkatan dari tingkat halus sampai tingkat kasar (informal), yang pertama tercipta pada masa Kesultanan Mataram menguasai Priangan (bagian timur Provinsi Jawa Barat). Namun demikian, di Wilayah Banten Selatan Seperti Lebak dan Pandeglang menggunakan Bahasa Sunda Campuran Sunda Kuno, Sunda Modern dan Bahasa Indonesia, di Serang dan Cilegon, bahasa Jawa Banten digunakan oleh etnik Jawa. Dan, di bagian utara Kota Tangerang, bahasa Indonesia dengan dialek Betawi juga digunakan oleh pendatang beretnis Betawi. Di samping bahasa Sunda, bahasa Jawa dan dialek Betawi, bahasa Indonesia juga digunakan terutama oleh pendatang dari bagian lain Indonesia.

D.PENGARUHISLAMTERHADAPMASYARAKAT BANTEN
Pengaruh eksternal mulai memasuki Banten pada abad ke-16 ketika Portugis mulai memasuki Nusantara untuk perdagangan lada; salah satunya dengan Banten. Pada masa ini, Islam di bawah Kerajaan Demak juga mulai menyebarkan Islam di Banten dengan menaklukkan Kerajaan Sunda Pajajaran pada tahun 1527. Sultan Demak atau yang dikenal sebagai Sunan Gunung Jati atau juga dikenal sebagai Pangeran Pucuk Umun menjadi penguasa baru di Banten yang akhirnya mengangkat Hasanuddin, anaknya sebagai Raja Banten. Hasanudin memindahkan ibukota kerajaan yang semula berada diatas sungai Ci-Banten ke daerah pesisir (muara sungai Ci-Banten) dengan membawa kursi raja dari Banten Girang ke Istana Surosowan sebagai penanda bahwa Banten sekarang menjadi daerah kekuasaan Kerajaan Demak. Perubahan kekuasaan ini membawa dampak yang cukup berarti di kehidupan masyarakat Banten terutama dalam hal keagamaan. Runtuhnya Kerajaan Sunda Pajajaran semakin memperkuat posisi Islam di kawasan Pantura, khususnya di bagian barat dan orang-orang Sunda mulai menyakini Islam.

Namun, khusus bagi masyarakat Kanekes tetap diperbolehkan untuk menganut kepercayaan Sunda Wiwitan tanpa adanya campur tangan Islam. Hal ini diketahui melalui Babad Banten dimana pada Pupuh 12 terdapat kalimat yang nampaknya menjadi dasar pijak pendirian Banten Islam dalam membangun nagari yang kuat. Bunyi pupuh 12 itu adalah : “Gawe kuta baluwarti bata kalawan kawis”, yang mengandung amanat membangun nagari (masa lampau) atau provinsi (masa kini), walaupun sesungguhnya adalah untuk membangun peradaban manusia yang kuat beserta seluruh identitasnya. Simbolisasi dengan dua realitas (dua dunia) yang ada saat itu, yakni Islam (sebagai pendatang) dan tradisi lokal (Sunda-Hindu) sebagai pribumi, menjadi sebab mengapa masyarakat Sunda pedalaman yang berdiam di Kanekes Pegunungan Kendeng, diperbolehkan tetap memeluk agama Sunda Wiwitan. Pernyataan tunduk mereka diekspresikan dalam Seba, yaitu penghadapan mereka terhadap Keraton. Kearifan semacam itulah yang mengantarkan Banten mencapai kegemilangan selama kurang lebih 150 tahun, sejak masa Sultan Maulana Hasanudin (1526) hingga Sultan Ageng Tirtayasa (1672). Namun setelah kepemimpinan Sultan Haji, Banten mengalami keruntuhan, yang bukan sekedar menghapuskan Kesultanan, tapi juga bermakna hilangnya keseimbangan bata kalawan kawis sebagai simpul kebudayaan dan peradaban Banten. Paradigma bata kalawan kawis merupakan kunci kearifan Banten sebagai hasil persentuhan antara Islam dan tradisi lokal yang menjadi dasar norma dalam merumuskan identitas kebantenan.

Kyai dan Jawara dimasa pemerintahan kolonial selalu bekerja sama, namun saat ini peran resmi Kyai dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah sudah hilang (Hidayat, 2007:207). Berbeda dengan asal usul kata ‘kyai’ yang lekat dengan perkembangan Islam, asal-usul kata ‘jawara’ pun tidak begitu jelas. Sebagian orang berpendapat bahwa jawara berarti juara, yang berarti pemenang, yang ingin dipandang orang yang paling hebat. Sebagian orang lagi berpendapat bahwa kata ‘jawara’ berasal dari kata ‘jaro’ yang berarti seorang pemimpin yang biasanya merujuk kepada kepemimpinan didesa, yang kalau sekarang lebih dikenal dengan kepala desa atau lurah. Pada masa dahulu kepala desa atau lurah di Banten mayoritas adalah para jawara. Para jawara tersebut memimpin kajaroan (desa) namun kemudian terjadi pergeseran makna sehingga jawara dan jaro menunjukan makna yang berbeda.Sekarang ini jawara tidak mesti menjadi pemimpin, apalagi menjadi kepala desa atau lurah. Jawara adalah murid kyai , dimana kyai pada tempo dulu tidak hanya mengajarkan ilmu-ilmu agama Islam tetapi juga mengajarkan ilmu persilatan (kanuragan). Hal ini disebabkan pesantren, pada masa yang lalu berada di daerah-daerah terpencil dan kurang aman. Dikarenakan tidak adanya faktor keamanan dari Kesultanan Banten yang tidak mampu menjangkau daerah terpencil yang sangat jauh dari pusat kekuasaan kesultanan sehingga kyai juga mengajarkan ilmu persilatan. Murid kyai yang lebih berbakat dalam bidang intelektual, memperdalam ilmu-ilmu agama Islam pada akhirnya disebut santri. Sedangkan murid kyai yang memiliki bakat dalam bidang fisik lebih condong kepada persilatan atau ilmu-ilmu kanuragan,yang kemudian disebut jawara. Karena itu dalam tradisi kejawaran bahwa seorang jawara yang melawan perintah kiyai itu akan kawalat.

Berdasarkan uraian diatas diketahui bahwa Banten pernah dikuasai oleh dua kebudayaan berbeda yaitu kebudayaan Sunda yang menganut Hindu dan kebudayaan Jawa-Cirebon yang menganut Islam maka tidak mengherankan jika saat ini masyarakat Banten terbagi atas dua yaitu 1. Urang Banten yang berbahasa Sunda-Banten (pada daerah Banten Selatan: Kabupaten Lebak dan Pandeglang) dan 2. Wong Banten yaitu mereka yang berbahasa Jaseng (Jawa-Serang) yang berada di Kota Serang dan wilayah Banten bagian Utara. Yang menjadi keunikan dari masyarakat Banten adalah bahwa meskipun mereka menggunakan dua bahasa yaitu Sunda dan Jawa, namun pada dasarnya Bahasa Sunda di Banten berbeda dengan Bahasa Sunda di Priangan, dan demikian pula dengan Bahasa Jawa yang dipakai di Banten jauh berbeda dengan Bahasa Jawa di keraton Jogjakarta dan Solo, serta daerah-daerah sekitarnya.


BAB III
PENUTUP



KESIMPULAN

Secara historis, kata Banten (Bantam) apabila dikaitkan dengan nama sebuah tempat, pada mulanya merupakan sebuah kota pelabuhan yang telah ada sejak abad ke lima dan menjadi wilayah kekuasaan kerajaan Tarumanegara. Zaman ke Zaman, masyarakt banten mengalami pembentukan yang terstruktur. Mulai dari masa prasejarah, pratarumanegara, masa kekuasaan kerajaan terumanegara, historia orang kanekes, sunda, dan pengaruh agama Islam dalam pembentukan karakter masyarakat Banten. Masyarakat yang hidup pada zaman yang telah disebutkan tadi mempunyai kehidupannya masing-masing yang mengikuti alur kehidupan tersebut dan mempunyai peninggalannya masing-masing.




DAFTAR PUSTAKA
"Schrieke, penguasa-penguasa pribumi, Balai pustaka, Jakarta, 1974, Hal.33
"Sartono, op Cit, 133
"ibid, Hal 126-127


Lihat Juga