PENTINGNYA PENDIDIKAN INKLUSIF DAN SIKAP GURU TERHADAP SISWA BERKEBUTUHAN KHUSUS



TUGAS MANDIRI
PENTINGNYA PENDIDIKAN INKLUSIF DAN SIKAP GURU TERHADAPSISWA BERKEBUTUHAN KHUSUS
Diajukan sebagai Tugas Mandiri pada Mata Kuliah
Psikologi Pendidikan

Dosen Pengampu

Juhji, M.Pd



DisusunOleh :
Tuti Asiyah
NIM.171240082

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SULTAN MAULANA HASANUDDIN BANTEN
2018

Oleh:
Tuti Asiyah
Mahasiswa Jurusan PGMI UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Abstract:
Journal aims to determine how the form of teacher attitudes towards inclusive education in terms of its constituent factors and determine the forming factors what affects teachers' attitudes towards inclusive education. These results indicate that teachers' attitudes consisting of a positive attitude that is accepting attitudes towards inclusive education and negative attitudes that is reject attitudes towards inclusive education. Factors that appear in this study, firstly, the teacher factor consisting of teacher' background, views on children with special needs, the type of teacher, grade level, teachers' beliefs, socio-political outlook, teachers' emphaty, and gender. Second, the experience factors, consisting of, experience teaching children with special needs and experiences of contact with children with special needs. Third, factors of knowledge that consists of the level of teacher education, training, knowledge, and learning needs of teachers.Fourth, educational environment factors that consist of resources support, support of parents and families, and the school system.

Keywords: Inclusive Education,Teachers’Attitude, Forming Factors the Attitudes of Teachers

Abstrak:
Jurnal ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana bentuk sikap guru terhadap pendidikan inklusi ditinjau dari faktor pembentuknya dan mengetahui faktor-faktor pembentuk apa yang mempengaruhi sikap guru terhadap pendidikan inklusi. Jurnal ini menunjukan bentuk sikap guru yang terdiri dari sikap positif yaitu sikap menerima terhadap pendidikan inklusi dan sikap negatif yaitu sikap menolak terhadap pendidikan inklusi.Faktor yang muncul dalam jurnal ini, yaitu pertama, faktor guru yang terdiri dari latar belakang guru, pandangan terhadap anak berkebutuhan khusus, tipe guru, tingkat kelas, keyakinan guru, pandangan sosio-politik, empati guru, dan gender.Kedua, faktor pengalaman yang terdiri dari pengalaman mengajar anak berkebutuhan khusus dan pengalaman kontak dengan anak berkebutuhan khusus. Ketiga, faktor pengetahuan yang terdiri dari level pendidikan guru, pelatihan, pengetahuan, dan kebutuhan belajar guru. Keempat, faktor lingkungan pendidikan yang terdiri dari dukungan sumber daya, dukungan orang tua dan keluarga, dan sistem sekolah.

Kata Kunci: Pendidikan Inklusi, Sikap Guru, Faktor Pembentuk Sikap Guru

Pendahuluan
Pendidikan merupakan hak setiap warga Negara. Hal ini ada dalam Pasal 31 ayat (1) UUD 1945 menyatakan bahwa “Setiap warga negara berhak memperoleh pendidikan” (Depdikbud,1996/1997). Pernyataan ini mengisyaratkan bahwa setiap warga negara Indonesia tanpa terkecuali siswa berkebutuhan khusus memiliki hak yang sama dengan siswasiswa lain pada umunya untuk memperoleh pendidikan, baik secara formal, informal maupun non formal.
Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003, tentang sistem pendidikan nasional, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Prinsip penyelenggaran pendidikan yang tercantum pada pasal 4 ayat 1 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 menyatakan bahwa pendidikan diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai kultural, dan kemajemukan bangsa. Meski undang-undang telah secara tegas mengatur pemerataan hak dan kewajiban bagi setiap warga negara untuk mengakses pendidikan, kasus diskriminasi dalam bidang pendidikan masih kerap terjadi khususnya terhadap anak berkebutuhan khusus.
Guru merupakan salah satu tokoh penting dalam praktek inklusi di sekolah, karena guru berinteraksi secara langsung dengan para siswa, baik siswa yang berkebutuhan khusus, maupun siswa non berkebutuhan khusus. Seorang guru diharapkan dapat memberikan kehidupan kelas agar menjadi lebih hangat dan pada waktu yang bersamaan dapat memberikan pemahaman kepada murid yang lain untuk dapat saling berinteraksi. Praktek inklusi merupakan tantangan baru bagi pengelola sekolah.Taylor dan Ringlaben (2012) menyatakan bahwa dengan adanya pendidikan inklusi menyebabkan tantangan baru pada guru, yaitu dalam hal melakukan perubahan yang signifikan terhadap program pendidikan dan mempersiapkan guru-guru untuk menghadapi semua kebutuhan siswa baik siswa berkebutuhan khusus maupun non berkebutuhan khusus. Taylor dan Ringlaben juga menjelaskan mengenai pentingnya sikap guru terhadap inklusi, yaitu guru dengan sikap yang lebih positif terhadap inklusi akan lebih mampu untuk mengatur instruksi dan kurikulum yang digunakan untuk siswa bekebutuhan khusus, serta guru dengan sikap yang lebih positif ini dapat memiliki pendekatan yang lebih positif untuk inklusi.

Pembahasan
Pendidikan adalah hak seluruh warga Negara tanpa membedakan asal usul status sosial, ekonomi, maupun keadaan fisik seseorang termasuk anak yang mempunyai kelainan sebagaimana diamanatkan dalam UUD 1945 pasal 31 .Pendidikan inklusi merupakan praktek yang bertujuan untuk pemenuhan hak azasi manusia atas pendidikan, tanpa adanya diskriminasi, dengan memberi kesempatan pendidikan yang berkualitas kepada semua anak tanpa perkecualian, sehingga semua anak memiliki kesempatan yang sama untuk secara aktif mengembangkan potensi pribadinya dalam lingkungan yang sama. Pendidikan inklusi juga bertujuan untuk membantu mempercepat program wajib belajar pendidikan dasar serta membantu meningkatkan mutu pendidikan dasar dan menengah dengan menekan angka tinggal kelas dan putus sekolah pada seluruh warga negara.
Pendnidikan Inklusif merupakankonsep pendidikan yang tidak membeda-bedakan latar belakang keadaan anak karena keterbatasan fisik maupun mental..[1]
Tujuan Pendidikan Inklusif
Pendidikan inklusif ditujukan pada semua kelompok yang termarginalisasi , tetapi kebijakan dan praktik inklusi anak penyandang cacat telah menjadi ketalisator utama untuk mengembangkan pendidikan inklusif yang efektif, fleksibel, dan tanggap terhadap keanekaragaman gaya dan kecepatan belajar.[2]
Karakteristik Pendidikan Inklusif
Hakikat pendidikan inklusif sesungguhnya berupaya memberikan peluang sebesar-besarnya kepada setiap anak Indonesia untuk memperoleh pelayanan pendidikan yang terbaik dan memadai demi membangun masa depan bangsa.[3]
1.      Kurikulum yang fleksibel ,Penyesuaian kurikulum dalam penerapan pendidikan inklusif tidak harus terlebih dahulu menekankan pada materi pelajaran, tetapi yang paling penting adalah bagaimana memberikan perhatian penuh pada kebutuhan anak didik. Penekanan terhadap materi pelajaran bukan tidak penting, melainkan alangkah baiknya kalau anda pertama-tama memberikan semacam motivasi hidup dalam meraih impian masa depan yang lebih cemerlang. Pendekatan Pembelajaran yang Fleksibel
2.      Sistem Evaluasi yang Fleksibel
3.      Pembelajaran yang Ramah

Faktor yang Mempengaruhi Sikap Guru terhadap Inklusi
1. Siswa Konsep guru terhadap siswa berkebutuhan khusus biasanya bergantung pada jenis hambatan siswa, tingkat keparahan hambatan siswa, dan kebutuhan siswa akan pendidikan. Persepsi guru mengenai jenis hambatan siswa dapat dibedakan berdasarkan tiga dimensi, yaitu hambatan fisik dan sensori, kognitif, dan perilakuemosional yang dimiliki siswa[4].
2. Guru Faktor guru terbagi dalam beberapa variabel, yaitu :
a. Gender Faktor gender ini berkaitan dengan isu gender terhadap inklusi. Beberapa peneliti menemukan bahwa guru perempuan memilikitoleransi yang lebih tinggi dibandingkan guru laki-laki terhadap integrasi untuk siswa berkebutuhan khusus. b. Usia dan Pengalaman Mengajar Guru yang lebih muda dan dengan pengalaman mengajar yang masih memiliki sikap yang mendukung terhadap integrasi. Harvey (1985 dalam Avramidis and Norwich, 2002) menemukan bahwa terdapat keengganan pada guru yang telah berpengalaman dibandingkan dengan guru pelatihan yang bersedia menerapkan program integrasi kepada siswa berkebutuhan khusus.Hal ini dapat menjadi sebuah alasan bahwa guru baru yang memenuhi syarat memiliki sikap yang positif terhadap program integrasi.c. Tingkat Kelas yang diajar Salvia dan Munson (1986 dalam Avramidis and Norwich, 2002) menjelaskan bahwa seiring dengan bertambahnya usia siswa, maka sikap positif yang dimiliki guru semakin besar.
PENDIDIKAN INKLUSI DARI FAKTOR PEMBENTUK SIKAP
Pelatihan Faktor yang mempengaruhi sikap guru yang menarik adalah pengetahuan yang dimiliki mengenai siswa berkebutuhan khusus yang dikembangkan melalui pelatihan yang didapat.
menunjukan fakta bahwa guru yang mengajar kelas yang lebih tinggi lebih memperhatikan pada materi pelajaran kurang memperhatikan pada perbedaan individu siswa. yang menjelaskan bahwa bagi guru yang lebih memperhatikan materi pelajaran, kehadiran siswa berkebutuhan khusus di dalam kelas mereka menjadi masalah tersendiri dalam praktek pengurusan aktivitas kelas. Pengalaman Kontak dengan Siswa Berkebutuhan Khusus Sebuah hipotesis mengenai kontak dengan siswa berkebutuhan khusus menyebutkan bahwa sejalan dengan pelaksanaan guru dalam program inklusi, sehingga kontak dengan berkebutuhan khusus semakin dekat, maka sikap yang dimiliki guru semakin positif.[5]
Sikap Guru terhadap Pendidikan Inklusi
Sikap guru terhadap pendidikan inklusi yang muncul berupa sikap positif yaitu sikap menerima terhadap pendidikan inklusi dan sikap negatif yaitu sikap menolak terhadap pendidikan inklusi.Faktor yang muncul dalam penelitian ini, yaitu pertama, faktor guru yang terdiri dari latar belakang guru, pandangan terhadap anak berkebutuhan khusus, tipe guru, tingkat kelas, keyakinan guru, pandangan sosio-politik, empati guru, dan gender.Kedua, faktor pengalaman yang terdiri dari pengalaman mengajar anak berkebutuhan khusus dan pengalaman kontak dengan anak berkebutuhan khusus.Ketiga, faktor pengetahuan yang terdiri dari latar belakang pendidikan guru, pelatihan, pengetahuan, dan kebutuhan belajar guru.Keempat, faktor lingkungan pendidikan yang terdiri dari dukungan sumber daya, dukungan orang tua dan keluarga, dan sistem sekolah.[6]
Model Pendidikan Inklusi Indonesia
Pendidikan anak berkebutuhan khusus di sekolah inklusi dapat dilakukan dengan berbagai model sebagai berikut[7]:
1. Kelas Reguler (Inklusi Penuh) Anak berkebutuhan khusus belajar bersama anak non berkebutuhan khusus sepanjang hari di kelas reguler dengan menggunakan kurikulum yang sama.
2. Kelas Reguler dengan Cluster Anak berkebutuhan khusus belajar bersama anak non berkebutuhan khusus di kelas reguler dalam kelompok khusus.
3. Kelas Reguler dengan Pull Out Anak berkebutuhan khusus belajar bersama anak non berkebutuhan khusus di kelas reguler namun dalam waktu-waktu tertentu ditarik dari kelas reguler ke ruang lain untuk belajar dengan guru pembimbing khusus.
4. Kelas Reguler dengan Cluster dan Pull Out Anak berkebutuhan khusus belajar bersama anak non berkebutuhan khusus di kelas reguler dalam kelompok khusus, dan dalam waktuwaktu tertentu ditarik dari kelas reguler ke ruang lain untuk belajar dengan guru pembimbing khusus. 5. Kelas Khusus dengan Berbagai Pengintegrasian Anak berkebutuhan khusus belajar di dalam kelas khusus pada sekolah reguler, namun dalam bidang-bidang tertentu dapat belajar bersama anak non berkebutuhan khusus di kelas reguler.
6. Kelas Khusus Penuh Anak berkebutuhan khusus belajar di dalam kelas khusus pada sekolah reguler.
Klasifikasi  Anak  Berkebutuhan Khusus Menurut klasifikasi dan jenis kelainan
Anak berkebutuhan dikelompokkan ke dalam kelainan fisik, kelainan mental, dan kelainan karakteristik sosial.[8]
1.      Kelainan Fisik
Kelainan fisik adalah kelainan yang terjadi pada satu atau lebih organ tubuh tertentu.Akibat kelainan tersebut timbul suatu keadaan pada fungsi fisik tubuhnya tidak dapat menjalankan tugasnya secara normal. Tidak berfungsinya anggota fisik terjadi pada:  alat fisik indra, misalnya kelainan pada indra pendengaran (tunarungu), kelainan pada indra penglihatan (tunanetra), kelainan pada fungsi organ bicara (tunawicara) alat motorik tubuh, misalnya kelainan otot dan tulang (poliomyelitis), kelainan pada sistem saraf di otak yang berakibat gangguan pada fungsi motorik (cerebral palsy), kelainan anggota badan akibat pertumbuhan yang tidak sempurna, misalnya lahir tanpa tangan/kaki, amputasi dan lain-lain. Untuk kelinan pada alat motorik tubuh ini dikenal dalam kelompol tunadaksa.Pengertian kelainan penglihatan yang perlu intervensi khusus yaitu kelainan yang dialami anak yang memiliki visus sentralis 6/60 lebih kecil dari itu, atau setelah dikoreksi secara maksimal tidak mungkin mempergunakan fasilitas pendidikan dan pengajaran yang ada dan umumnya digunakan oleh anak normal/ pramg awas. Berdasarkan gradasi ketajaman penglihatannya, kondisi anak yang berkelainan penglihatan dapat dikelompokkan menjadi:
1.). kelompok anak berkelainan penglihatan yang masih memiliki kemungkinan untuk dikoreksi melalui pengobatan atau alat optik,
2). anak berkelainan penglihatan yang dapat dikoreksi melalui pengobatan atau alat optik. Anak berkelainan penglihatan yang masih mempunyai kemungkinan dikoreksi dengan pengobatan atau alat optik, biasanya anak dalam kelomopok ini tidak dapat dikategorikan dalam kasus kelainan penglihatan dalam pengertian pendidikan luar biasa (pendidikan khusus), sebab mereka dapat dididik tanpa harus dengan modifikasi atau program khusus. Anak berkelainan penglihatan yang kemungkinan dikoreksi dengan penyembuhan pengobatan atau alat optik, tetapi kemampuan untuk mempergunakan  fungsi penglihatannya secara efektif sangat minim, sehingga anak tidak mampu mengikuti program sekolah normal. Anak berkelainan penglihatan dalam kelompok yang ke tiga ini adalah anak berkelainan penglihatan yang sama sekali tidak mempunyai kemungkinan dikoreksi dengan penyembuhan pengobatan atau alat optik. Akibat berkelainan  penglihatan yang demikian beratnya sehingga kebutuhan layanan pendidikan hanya dapat dididik melalui saluran lain selain mata. Pada kasus ini orang sering menyebutnya dengan tunanetra berat (buta).seseorang dikategorikan buta jika ia tidak dapat mempergunakan penglihatannya untuk kepentingan pendidikannya. Anak berkelainan indra pendengaran atau tunarungu secara medis dikatakan, jika dalam mekanisme pendengaran karena sesuatu dan lain sebab terdapat satu atau lebih organ mengalami gangguan atau rusak. Akibatnya, organ tersebut tidak mampu menjalankan fungsinya untuk menghantarkan dan mempersepsi rangsang suara yang ditangkap untuk diubah menjadi tanggapan akustik. Secara pedagogis, seorang anak dapat dikategorikan berkelainan indra pendengaran atau tunarungu, jika dampak dari disfungsinya organ-organ yang berfungsi sebagai penghantarMengenal Anak Berkebutuhan Khususdan persepsi pendengaran mengakibatkan ia tidak mampu mengikuti program pendidikan anak normal sehingga memerlukan layanan pendidikan khusus untuk meniti tugas perkembangannya. Dalam percakapan sehari–hari kondisi anak dengan kelainan pendengaran diidentikkan dengan istilah tuli.Hal ini dapat diakui kebenarannya karena tuna pendengaran dapat mengurangi kemampuannya memahami percakapan lewat pemanfaatan fungsi pendengarannya. Oleh karena itu, pada penderita tuna pendengaran berat berarti semakin besar intensitas ketidakmampuannya untuk menyimak pembicaraan yang memanfaatkan ketajaman pendengarannya, baik dengan bantuan alat Bantu dengar maupun tanpa bantuan alat bantu dengar,”….one whose hearing disability precludes successful processing of linguistic information through audition, with a bearing aids”. Derajat ketunarunguan seseorang biasanya diukur dan dinyatakan dalam satuan deci-Bell atau disingkat dB. Dilihat dari tingkat gradasinya secara umum dapat dikategorikan menjadi tunarungu dalam arti tuli (deaf) dan tunarungu dikatakan tuli jika hasil tes pendengaran menunjukkan kehilangan kemampuan mendengarnya 70 dB  atau lebih menurut ISO (International Standard Organization). Biasanya penderita dalam kategori tuli ini akan mengalami kesulitan untuk dapat mengerti atau memahami pembicaraan orang lain meskipun menggunakan bantuan alat atau tanpa alat bantu dengar. Sedangkan definisi lemah pendengaran, seseorang dikatakan lemah pendengaran jika hasil tes pendengaran menunjukkan kehilangankemampuan mendengarnya antara 35-69 dB menurut ISO. Biasanya penderita dalam kategori lemah pendengaran ini tidak terhalang untuk mengerti atau mencoba memahami bicara orang lain dengan menggunakan alat Bantu dengar (Moores, 1978). Terminologi kelainan bicara atau tunawicara adalah ketidakmampuan seseorang dalam mengkomunikasikan gagasannya kepada orang lain (pendengar) dengan memanfaatkan organ bicaranya, dikarenakan celah langit-langit, bibir sumbing, kerusakan otak, tunarungu, dan lain-lain (Patton,1991). Akibatnya, pesan yang telihat sederhana ketika disampaikan kepada lawan bicara menjadi tidak sederhana, sulit dipahami, dan membingungkan.Kelainan  bicara ini dapat terjadi pada sisi artikulasi, arus ujaran, nada suara dan struktur bahasanya. Ragam kelainan bicara yang terjadi pada usia sekolah berdasarkan jenisnya dapat disimak.
2. Kelainan Mental Anak
kelainan dalam aspek mental adalah anak yang memiliki penyimpangan kemampuan berpikir secara kritis, logis dalam menanggapi dunia sekitarnya. Kelainan pada aspek mental ini dapat menyebar ke dua arah, yaitu kelainan mental dalam arti lebih (supernormal) dan kelainan mental dalam arti kurang  (subnormal). Kelainan mental dalam arti lebih atau anak unggul, menurut tingkatannya dikelompokkan menjadi: (a) anak mampu belajar dengan cepat (rapid learner), (b) anak berbakat (gifted), dan (c) anak genius (extremely gifted). Karakteristik anak yang termasuk dalam kategori mampu belajar dengan cepat jika hasil kecerdasan menunjukkan, bahwa indeks kecerdasannya yang bersangkutan berada pada rentang 110-120, anak berbakat jika indeks kecerdsannya berada pada rentang 120-140, dan anak sangat berbakat atau genius jika indeks kecerdasannya berada pada rentang di atas 140.
3.Kelainan Perilaku Sosial
Kelainan perilaku atau tunalaras sosial adalah mereka yang mengalami kesulitan untuk menyesuaikan diri terhadap lingkungan, tatatertib, norma sosial,  dan lain-lain. Manifestasi dari mereka yang dikategorikan dalam kelainan perilaku sosial ini , misalnya kompensasi berlebihan, sering bentrok dengan lingkungan, pelanggaran hukum/norma maupun kesopanan (Amin & Dwidjosumarto, 1979). Mackie (1957) mengemukakan, bahwa anak yang termasuk dalam kategori kelainan perilaku sosial adalah anak yang mempunyai tingkah laku yang tidak sesuai dengan adat kebiasaan yang berlaku di rumah, di sekolah, dan di masyarakat lingkungannya (dalam Kirk,1970).
Mengenal Anak Berkebutuhan Khusus
tindakan atau perbuatan yang dilakukan merugikan diri sendiri maupun orang lain. Klasifikasi anak yang termasuk dalam kategori mengalami kelainan perilaku sosial di antaranya anak psychotic dan neurotic, anak dengan gangguan emosi dan anak nakal (delinquent). Berdasarkan sumber terjadinya tindak kelainan perilaku sosial secara penggolongan dibedakan menjadi: (1) tunalaras emosi, yaitu penyimpangan perilaku sosial yang ekstrem sebagai bentuk gangguan emosi, (2) tunalaras sosial, yaitu penyimpangan perilaku sosial sebagai bentuk kelainan dalam penyesuaian sosial karena bersifat fungsional.

SIKAP GURU TERHADAP PENDIDIKAN INKLUSI DITINJAU DARI FAKTOR PEMBENTUK SIKAP
Berdasarkan faktor guru dalam jurnal ini ditemukan berbagai faktor yaitu tipe guru, tingkat kelas, latar belakang pendidikan, latar belakang guru, pengalaman mengajar, pengalaman kontak dengan anak berkebutuhan khusus, keyakinan guru, pandangan sosio-politik, pelatihan, pengetahuan, kebutuhan belajar guru, gender, dan empati. Jurnal ini menemukan faktor baru yang belum ada pada jurnal sebelumnya, yaitu faktor latar belakang guru, pengetahuan, kebutuhan belajar guru, dan empati.Faktor latar belakang guru ini merupakan faktor yang menunjukan alasan guru untuk bekerja sebagai guru di sekolah inklusi.Faktor ini cukup penting karena menjadi motivasi dasar guru untuk menunjukan sikap positif atau negatif terhadap pendidikan inklusi dan anak berkebutuhan khusus.Faktor pengetahuan yang ditemukan dalam penelitian ini memiliki kaitan dengan faktor keyakinan guru, latar belakang pendidikan, dan pelatihan. Faktor lain yang ditemukan dapat mempengaruhi sikap guru terhadap pendidikan inklusi dalam penelitian ini adalah faktor empati. Faktor empati merupakan faktor perasaan yang dimiliki oleh guru terutama terhadap anak berkebutuhan khusus.Ketika seorang guru memiliki empati kepada anak berkebutuhan khusus maka guru tersebut memperhatikan dan berusaha untuk menerima keadaan anak berkebutuhan khusus.Ketiga, faktor lingkungan pendidikan yang melihat berbagai dukungan yang diterima guru untuk menunjang kegiatan belajar dan mengajar di sekolah inklusi.Faktor lingkungan pendidikan ini terdiri dari dukungan sumber daya, dukungan orang tua dan keluarga, serta sistem sekolah.Sistem sekolah merupakan faktor baru yang ditemukan dalam penelitian ini yang belum ditemukan dalam penelitian sebelumnya. Sistem sekolah menjadi penting dalam mempengaruhi sikap guru terhadap pendidikan inklusi karena guru akan merubah keyakinannya terhadap pendidikan inklusi menjadi sesuai dengan sistem yang berlaku di sekolah. Sikap guru terhadap pendidikan inklusi yang muncul dalam penelitian ini berupa sikap positif dan negatif.Sikap positif dalam penelitian ini ditunjukan melalui penerimaan guru terhadap kehadiran anak berkebutuhan khusus di dalam kelas yang diajar, pandangan bahwa semua anak memiliki karakteristik dan kebutuhan masing-masing, serta harapan dan dukungan terhadap inklusi.Sikap negatif ditunjukan melalui kurang mendukungnya guru terhadap penempatan anak berkebutuhan khusus di kelas inklusi penuh, serta pandangan guru yang negatif terhadap kemampuan anak berkebutuhan khusus.[9]

DAMPAK KELAINAN
Kelainan atau ketunaan pada aspek fisik, mental, maupun sosial yang dialami oleh seseorang akan membawa konsekuensi tersendiri bagi penyandangnya, baik secara keseluruhan atau sebagian, baik yang bersifat objektif maupun subjektif. Kondisi kelainan yang disandang seseorang ini akan memberikan dampak kurang menguntungkan pada kondisi psikologis maupun psikososialnya. Pada gilirannya kondisi tersebut dapat menjadi hambatan yang berarti bagi penyandang kelainan dalam meniti tugas perkembangannya.Mekanisme hubungan fisik dengan psikis yang berdampak secara langsung atau tidak langsung sebagai konsekuensi pada masing-masing aspeknya, secara eksplisit dapat disimak mekanisme interaksi berikut. Seseorang yang diketahui mengalami kelainan atau ketunaan pada salah satu atau lebih fungsi organ tubuh/ indranya, maka akan timbul akibat langsung dari gangguan organ tersebut. Dalam hal ini akan berkurang kemampuannya untuk memfungsikan secara maksimum organ atau instrument anggota tubuh yang mengalami kelainan, misalnya hilangnya
Mengenal Anak Berkebutuhan Khusus
fungsi pendengaran, hilangnya fungsi penglihatan, atau berkurangnya fungsi organ tubuh (Tahap I). Tidak berfungsinya alat sensoris atau motoris tersebut, berdampak pada penderita untuk melakukan eksplorasi sehingga ia akan mengalami hambatan dalam melakukan aktivitas yang mendayagunakan alat sensoris atau motorisnya (Tahap II). Hambatan yang dialami oleh penderita kelainan dalam melakukan berbagai aktivitas akan menimbulkan reaksi-reaksi emosional akibat ketidakberdayaannya, dan biasanya dalam tahap masih merupakan reaksi emosional yang sehat saja (Tahap III).[10]

PRINSIP PENDIDIKAN ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS
 Mendidik anak yang berkelainan fisik, mental, maupun karakteristik perilaku sosialnya, tidak sama seperti mendidik anak normal, sebab selain memerlukan suatu pendekatan yang khusus juga memerlukan strategi yang khusus. Hal ini sematamata karena bersandar pada kondisi yang dialami anak berkelainan. Oleh karena itu, melalui pendekatan dan strategi khusus dalam mendidik anak berkelainan,
diharapkan anak berkelainan: (1)  dapat menerima kondisinya, (2) dapat melakukan sosialisasi dengan baik, (3) mampu berjuang sesuai dengan kemampuannya, (4) memiliki ketrampilan yang sangat dibutuhkan, dan (5) menyadari sebagai warga negara dan anggota masyarakat. Tujuan lainnya agar upaya yang dilakukan  dalam rangka habilitasi maupun rehabilitasi anak berkelainan dapat memberikan daya guna dan hasil guna yang tepat. Pengembangan prinsip-prinsip pendekatan secara khusus, yang dapat dijadikan dasar dalam upaya mendidik anak berkelainan, antara lain sebagai berikut: 1. Prinsip kasih sayang. Prinsip kasih sayang pada dasarnya adlah menerima mereka sebagaimana adanya, upaya yang perlu dilakukan untuk mereka: (a) tidak bersikap memanjakan, (b) tidak bersikap acuh tak acuh terhadap kebutuhannya, dan (c) memberikan tugas yang sesuai dengan kemampuan anak. 2. Prinsip layanan individual. Pelayanan individual dalam rangka mendidik anak berkelainan perlu mendapatkan porsi yang lebih besar, oleh karena itu, upaya yang perlu dilakukan untuk mereka selama pendidikannya : (a) jumlah siswa yang dilayani guru tidak lebih dari 4-6 orang dalam setia kelasnya, (b) pengaturan kurikulum dan jadwal pelajaran dapat bersifat fleksibel, (c) penataan kelas harus dirancang dengan sedemikian rupa sehingga guru dapat menjangkau semua siswanya dengan mudah, dan (d) modifikasi alat Bantu pengajaran. 3. Prinsip kesiapan. Untuk menerima suatu pelajaran tertentu diperlukan kesiapan. Khususnya kesiapan anak untuk mendapatkan pelajaran yang akan diajarkan, terutama pengetahuan prasyarat Mengenal Anak Berkebutuhan Khusus
pengetahuan, mental dan fisik yang diperlukan untuk menunjang pelajaran berikutnya. 4. Prinsip keperagaan. Alat peraga yang digunakan untuk media sebaiknya diupayakan menggunakan benda atau situasi aslinya, namun anabila hal itu sulit dilakukan, dapat menggunakan benda tiruan atau minimal gambarnya. 5. Prinsip motivasi. Prinsip motivasi ini lebih menitikberatkan pada cara mengajar dan pemberian evaluasi yang disesuaikan dengan kondisi anak berkelainan. Contoh, bagi anak tunanetra, mempelajari orientasi dan mobilitas yang ditekankan pada pengenalan suara binatang akan lebih menarik dan mengesankan jika mereka diajak ke kebun binatang. 6. Prinsip belajar dan bekerja kelompok. Arah penekanan prinsip belajar dan bekerja kelompok sebagai anggota masyarakat dapat bergaul dengan masyarakat lingkungannya, tanpa harus merasa rendah diri atau minder dengan orang normal.Oleh karena itu, sifat seperti egosentris atau egoistis pada anak tunarungu karena tidak menghayati perasaan, agresif, dan destruktif pada anak tunalaras perlu diminimalkan atau dihilangkan melalui belajar dan bekerja kelompok. Melalui kegiatan tersebut diharapkan mereka dapat memahami bagaimana cara bergaul dengan orang lain secara baik dan wajar. 7. Prinsip ketrampilan. Pendidikan ketrampilan yang diberikan kepada anak berkelainan, selain berfungsi selektif, edukatif, rekreatif dan terapi, juga dapat dijadikan sebagai bekal dalam kehidupannya kelak.
8. Prinsip penanaman dan penyempurnaan sikap. Secara fisik dan psikis sikap anak berkelainan memang kurang baik sehingga perlu diupayakan agar mereka mempunyai sikap yang baik serta tidak selalu menjadi perhatian orang lain.
PENUTUP Dalam undang-undang no 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional disebutkan bahwa”Pendidikan khusus merupakan pendidikan bagi peserta didik yang memiliki kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran karena kelainan phisik, emosional, mental dan sosial’. Ketetapan tersebut bagi anak berkebutuhan khusus sangat berarti karena memberi landasan yang kuat bahwa mereka memperoleh kesempatan yang sama seperti anak normal lainnya dalam hal pendidikan dan pengajaran. Karena dengan memanfaatkan sisa potensi yang dimiliki anak perlu didorong untuk mengembangkan dirinya sehingga kelak dapat hidup mandiri seperti layaknya orang normal.Untuk itu guru maupun orang tua perlu memahami kebutuhan dan potensi anak walaupun inteligensi mereka tidak berbeda dengan anak normal kecuali anak tuna grahita tetapi karena ketidak lengkapan kemampuan yang dimiliki tentu dalam pembelajaran membutuhkan fasilitas yang berbeda.Agar tidak memberatkan guru maka anak berkebutuhan khusus perlu dimasukkan ke sekolah khusus atau dalam kelas inklusi. Kelas inklusi akan lebih memberikan makna bagi anak jika hanya menampung anak yang mengalami kelainan yang sejenis saja.[11]

ETIOLOGI ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS
 Informasi faktor penyebab terjadinya kelainan pada seseorang sangat beragam jenisnya, namun secara umum dilihat dari masa terjadinya kelainan itu sendiri dapat diklasifikasikan menjadi: sebelum kelahiran (prenatal), pada saat kelahiran (neonatal), dan setelah kelahiran (postnatal).
Kelainan terjadi sebelum anak lahir, yaitu masa di mana anak masih berada dalam kandungan diketahui telah mengalami kelainan atau ketunaan.Kelainan yang terjadi pada masa prenatal, berdasarkan periodisasinya dapat terjadi pada periode embrio, periode janin muda, dan periode janin aktini (Arkandha, 1984).Periode embrio dimulai sejak saat pembuahan sampai kandungan berumur 3 bulan .karakteristik periode ini yaitu pembiakan sel yang pesat dan berakhir pada saat embrio dapat hidup sendiri dengan memanfatkan bahan-bahan yang ada dalam kantong kuning telur (yolk sack).[12]

KESIMPULAN
Sikap guru terhadap pendidikan inklusi yang muncul dalam penelitian ini berupa sikap positif yaitu sikap menerima terhadap pendidikan inklusi dan sikap negatif yaitu sikap menolak terhadap pendidikan inklusi.Faktor yang muncul dalam penelitian ini, yaitu pertama, faktor guru yang terdiri dari latar belakang guru, pandangan terhadap anak berkebutuhan khusus, tipe guru, tingkat kelas, keyakinan guru, pandangan sosio-politik, empati guru, dan gender.Kedua, faktor pengalaman yang terdiri dari pengalaman mengajar anak berkebutuhan khusus dan pengalaman kontak dengan anak berkebutuhan khusus.Ketiga, faktor pengetahuan yang terdiri dari latar belakang pendidikan guru, pelatihan, pengetahuan, dan kebutuhan belajar guru.Keempat, faktor lingkungan pendidikan yang terdiri dari dukungan sumber daya, dukungan orang tua dan keluarga, dan sistem sekolah.
Daftar Pustaka
Takdir Ilahi Mohammad, 2012, Pendidikan Inklusif, Jogjakarta Ar-ruzz media
Syafrida Elisa dkk ,”Sikap Guru Terhadap Pendidikan Inklusif” Jurnal Psikologi Vol. 2, No. 01, Februari 2013
Emawati. 2008. Mengenal Lebih Jauh Sekolah Inklusi. Pedagogik Jurnal Pendidikan, 5, 1,
Dirjen Mandikdasmen, pedoman umum penyelenggaraan pendidikan inklusif (Jakarta: Depdiknas)
Slavin Robert, Psikologi pendidikan Teori dan Praktik, (Jakarta: permata puri media)
Soepandi Ahmad ,2013,Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan Volume XIII No.1
Ekowati Wahyu,Sosialisasi anak berkebutuhan khusus, PT.Setia karya Jakarta
Mighwar, M 2006, Psikologi remaja petunjuk bagi guru dan orang tua, Pustaka Setia, Bandung.



[1]Mohammad Takdir Ilahi, Pendidikan Inklusif, Ar-ruzz media, 2012, hlm.23
[2]Syafrida Elisa, Aryani Tri Wrastari,”Sikap Guru Terhadap Pendidikan Inklusif” Jurnal Psikologi Vol. 2, No. 01, Februari 2013
[3]Emawati.(2008). Mengenal Lebih Jauh Sekolah Inklusi. Pedagogik Jurnal Pendidikan, 5, 1, 25-35
[4]Heri Purwanto, Pengantar Perilaku Manusia untuk Keperawatan, (Jakarta: EGC, 2007) hlm.30
[5]Nandiyah Abdullah, Mengenal Anak Berkebutuhan Khusus, Magistra No. 86 Th. XXV Desember 2013 ISSN 0215-9511
[6]Soepandi ahmad , Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan Volume XIII No.1  April2013
[7]Syafrida Elisa, Aryani Tri Wrastari,”Sikap Guru Terhadap Pendidikan Inklusif” Jurnal Psikologi Vol. 2, No. 01, Februari 2013 hlm 08
[8]Dirjen Mandikdasmen, pedoman umum penyelenggaraan pendidikan inklusif (Jakarta : Depdiknas) hlm. 32
[9] Robert E. Slavin, Psikologi pendidikan Teori dan Praktik, (Jakarta: permata puri media) hlm 216
[10]Mighwar, Psikologi remaja petunjuk bagi guru dan orang tua, Pustaka Setia, Bandung. Hlm. 23-24
[11]Ekowati Wahyu,Sosialisasi anak berkebutuhan khusus, PT.Setia karya Jakarta, hlm 32-33
[12] Soepandi Ahmad ,Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan Volume XIII No.1

Lihat Juga